“Bisikan Iblis” karya Hendra Gunawan

Periode realisme kerakyatan yogya diawali karena berpindahnya ibu kota Negara ke jogja. Para seniman pun ikut hijrah kejogja dan mendirikan sebuah organisasi “Pelukis Rakyat”. Organisasi tersebut berkembang dengan baik, karena berhubungan baik dengan pemerintahan. Hal ini karena hasil karya seniman tersebut bertemakan tentang perjuangan, sesuai dengan keadaan yang ada pada masa itu. Selain itu juga ada hasil karya yang menggambarkan tentang kritikan karena adanya ketimpangan social yang ada pada masa itu. Sehingga periode ini disebut realisme kerakyatan, ada juga yang menyebut realisme social.
Salah satu contoh hasil lukisan pada masa periode realisme kerakyatan yogya adalah karya yang Hendra Gunawan.

Judul : “Bisikan Iblis”
Ukuran : 110cm X 135cm
Media : Oil on Canvas
Lukisan karya Hendra Gunawan yang berjudul “Bisikan Iblis” tersebut menggambarkan tentang kondisi yang terjadi pada masa tersebut. Lukisan tersebut termasuk lukisan yang terbaik pada masa itu, karena memiliki nilai kehidupan yang tergandung pada masa tersebut. Lukisan tersebut menggambarkan tentang manusia yang muda dihasut oleh iblis, hewan-hewan yang ada pada gambar tersebut menggambarkan manusia yang berprilaku seperti hewan, karena hasutan iblis.

Sumber : http://blog-senirupa.blogspot.com/2013/01/karya-lukisan-hendra-gunawan.html
Nama Kelompok
Taskiyah Mufidah (XII IPS 2)
Ilham Arif M (XII IPS 3)
Rosita Chandradewi (XII IPS 3)

Iklan

ACHMAD SADALI (MAZHAB BANDUNG)

Mazhab Bandung adalah sebuah aliran seni rupa yang mengarah
pada gaya melukis seniman Bandung yang mengutamakan prinsip-prinsip
formal seni, seperti bentuk, warna,garis. Mazhab Bandung ini juga merupakan
awal perkembangan seni rupa Indonesia yang saat itu masih menganut sistem
yang bersifat tradisional. Aliran ini pertama kali berkembang pada akhir tahun
1950-an, para pelukis Seni Rupa ITB melakukan penyimpangan pada cocok
Realisme. Bisa dibilang, aliran ini meniadakan unsur tradisi dan menggantinya
dengan unsur Abstrak dan Kubistik yang dibawaoleh Ries Mulder.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri Mazhab Bandung adalah
lebih mengutamakan detail bentuk, warna, dan garis. Juga bisa berbentuk
Abstrak dan Kubistik.
 Seniman Mazhab Bandung

Salah satu seniman Mazhab Bandung yang terkenal aadalah Ahmad Sadali.
Lahir : Garut, 29 Juli 1924
Wafat : Garut, 19 September 1987
Ahmad Sadali bisa di bilang seorang pelukis yang menyatakan 2 unsur, yaitu seni dan kereligiusan. Beliau awal nya belajar di ITB dan mendapat beasiswa sehingga meneruskan kuliahnya ke Iowa State University dan New York Art Student League. Ahmad Sadali lalu kembali ke Indonesia sehingga menyebarkan aliran abstrak, dan pada akhirnya beliau di beri gelar sebagai Bapak Seni Lukis Abstrak Indonesia.

 Karya Ahmad Sadali “Gunungan Emas”


Karya ini dibuat pada 1980 ini merupakan perwujudan dari penggabungan 2 unsur, yaitu seni dan kereligiusan. Adanya tanda segitiga, konstruksi piramida memberikan simbol tentang religiusitas. Segitiga melambangkan hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam, juga terdapat guratan-guratan kaligrafi Al-Quran yang dilelehi oleh emas. Sehingga muncullah nilai religius, misteri dan ketidakabadian (fana). Memang,Ahmad Sadali adalah seorang seniman yang sangat religius. Menurut Sadali, daerah seni adalah daerah zikir. Makin canggih kemampuan zikir manusia, makin peka mata batinnya. Karya Ahmad Sadali ini bisa dibilang termasuk dalam aliran Bandung, karena terdapat motif garis (berupa segitiga) juga terdapat abstrak yang merupakan ciri utama Mazhab Bandung. Dalam lukisan ini, dapat dilihat bagaimana Sadali melakukan zikir, mencurahkan kepekaan mata batinnya dalam elemen visual (bentuk-bentuk yang bisa dilihat).
Media yang digunakan “Gunungan Emas ( The Golden Mountain)” 1980 diantaranya:
Cat Minyak
Kanvas 80×80 cm

Sumber : http://archive.ivaa-online.org/artworks/detail/4809
http://pesantrenbudaya.blogspot.com/2011/11/ahmad-sadali-pelukis-mubaligh-aktivis.html

Nama Anggota kelompok:
1. Al Wandra Fathan (XII IPA 5 / 02)
2. Nofiani Krusitasari (XII IPA 5 / 17)
3. Marinda Dwi Fatimah (XII IPA 5 / 33)
4. Chandra Maleo (XII IPS 1 / 12)
5. Lovenda Yuria Linggasari (XII IPS 1 / 23)
Telah di edit oleh Admin tgl. 18 September 2013

Op art (optical art) “Bridget Louise Riley”

Op art (optical art), disebut juga retinal art, yaitu corak seni lukis yang penggambarannya merupakan susunan geometris dengan pengulangan yang teratur rapi, bisa seperti papan catur. Op art, juga dikenal sebagai seni optik, yaitu gaya seni rupa yang menggunakan ilusi optik. Seni op dipengaruhi oleh hasil kerja visual yang dijalankan oleh ahli psikologi dan saintis. Tokoh-tokoh op art: Victor Vasareley, Bridget Riley, Yaacov Agam, Josef Alberf, Richard Allen, Getulio Alviani dan Tony Delap.
Ciri-ciri op art:
• Karya seni op art boleh mengelirukan pandangan mata
• Kebanyakan berbentuk geometrik
• Pemilihan garisan, warna dan bentuk dilakukan dengan berhati-hati untuk mendapat kesan yang maksimum
• Mempunyai ruang positif dan ruang negatif

Contoh Karya Optical art (Op art)

op art1

oleh : “Bridget Louise Riley”
Bridget Louise Riley adalah seorang pelukis Inggris yang merupakan penggagas op art (seni yang menggunakan ilusi optis), seni yang mengeksploitasi kekeliruan penangkapan mata manusia.
Riley mulai menyelidiki warna pada tahun 1967, tahun di mana dia menghasilkan lukisan stripe pertama. Pengenalan Riley untuk pekerjaannya warna adalah sesuatu yang sangat berhati-hati dari. Masing-masing warna mempengaruhi dan dipengaruhi oleh warna-warna sebelahnya.
Dari tahun 1967 dan seterusnya Riley semakin mulai menggunakan warna. Dia juga mulai menggunakan bentuk yang lebih stabil – garis lurus atau bergelombang vertikal yang sederhana. Posisi warna itu sendiri yang menghasilkan nuansa gerakan yang ingin sampaikan.
Setelah perjalanan ke Mesir pada awal tahun 1980, di mana ia terinspirasi oleh warna-warni hieroglif dekorasi, Riley mulai mengeksplorasi warna dan kontras. Riley menciptakan warna dia menyebutnya dengan ‘palet Mesir’. Menjelang akhir pekerjaan 1980 Riley mengalami perubahan dramatis dengan reintroduksi diagonal dalam bentuk urutan jajaran genjang digunakan untuk mengganggu dan menghidupkan garis-garis vertikal yang ditandai lukisannya sebelumnya, misalnya; biru, pirus, dan warna alternatif dengan kuning , merah dan putih.
Karya Bridget Riley bergerak semakin jauh membangun dari sensasi menimbulkan respon persepsi, dan sebaliknya menuju seni sensasi penglihatan murni, mengobati bentuk dan warna sebagai ‘identitas utama’.Unit warna diatur sesuai dengan prinsip-prinsip hubungan dan interaksi berwarna, tapi semakin dihubungkan dengan implikasi ritme, ruang dan kedalaman.
Riley mulai memasukkan unsur-unsur diagonal ‘permen’ naik dari kiri ke kanan yang melintasi vertikal, menghancurkan pesawat gambar. Pesawat warna bergantian maju dan surut, sehingga menimbulkan kontras dalam warna, nada, kepadatan dan arah.

Contoh karyanya pada tahun 1980-1981

Ermayani Sholikah Galuh Sasanti

ALIRAN EKPRESIONISME

Ekspressionisme adalah kecenderungan seorang seniman untuk mendistorsi kenyataan dengan efek-efek emosional. Istilah emosi lebih menuju kepada jenis emosi kemarahan dan depresi daripada emosi bahagia.

Definisi
Definisi dari Ekspresionisme ialah kebebasan distorsi bentuk dan warna untuk melahirkan emosi ataupun sensasi dari dalam yang biasanya dihubungkan dengan kekerasan atau tragedi. Obyek-obyek yang dilukiskan antara lain kengerian, kekerasan, kemiskinan, kesedihan dan keinginan lain dibalik tingkah laku manusia.
Ekspresionisme menjajagi jiwa dan menemukan ` Sturm und Drang’ dan pancarannya keluar merupakan media yang baik untuk melukiskan emosinya kepada orang lain. Salah satu tokoh Ekspresionisme di Indonesia adalah Affandi.

Sejarah Seni Lukis Ekspressionisme
Penganut paham ekspresionisme memiliki dalil bahwa “Art is an expression of human feeling” atau seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia. Aliran ini bertalian dengan apa yang dialami oleh seseorang seniman ketika menciptakan suatu karya seni. Perintis aliran ini Benedetto Croce (1866-1952) menyatakan bahwa seni adalah pengungkapan dari kesan-kesan ( art is expression of impresion ). Menurut Croce ekspresi sama dengan intuisi. Intuisi adalah pengetahuan intuitif yang diperoleh melalui pengkhayalan tentang hal-hal individual yang menghasilkan gambaran angan-angan (images) (The Liang Gie, 1976:75).

Ciri Ciri Aliran Lukisan Ekspressionisme :
a. Pengungkapannya berwujud berbagai gambaran angan-angan misalnya images warna, garis, dan kata.
b. Mengungkapkan bagi seseorang sama dengan menciptakan seni dalam dirinya tanpa perlu adanya kegiatan jasmaniah keluar.
c. Merupakan aliran yang melukiskan aktualitas yang sudah didistorsikan ke arah suasana kesedihan, kekerasan ataupun tekanan batin.

Ciri-ciri Arsitektur Ekspresionisme :

a. Memiliki kebebasan untuk berimajinasi
b. Memiliki kebebasan untuk menciptakan suatu seni dalam arsitektur
c. Gambarnya tidak bersifat kaku dan monoton
d. Tidak adanya batasan dalam mengungkapkan ekspresi
e. Bentuk ekspresinya biasa terdapat pada emosi kemarahan dan depresi serta bahagia.
Seorang tokoh lain dari aliran ini adalah Leo Tolstoy. Ia berpendapat: “Memunculkan dalam diri sendiri suatu perasaan yang seseorang telah mengalaminya dan setelah memunculkan itu kemudian dengan perantaraan pelbagai gerak, garis, warna, suara atau bentuk yang diungkapkan dalam kata-kata, memindahkan perasaan itu sehingga orang-orang lain mengalami perasaan yang sama, ini adalah kegiatan seni.

Contoh Lukisan Aliran Ekspresionisme

Gambar. Lukisan Affandi, The Three Moods, 1966

sumber http://www.terminartors.com/
Judul : The Three Moods
Karya : Affandi
Tahun : 1966
Lokasi : Indonesia

Deskripsi :
Lukisan ini mendeskripsikan tentang tiga wajah , yang berbeda ekspresi wajah dan mempunyai warna yang berbeda-beda sesuai dengan ekspresi,Seperti yang tampak pada gambar diatas ini.

Yang berwana kuning menggambarkan ekspresi wajah atau mimik orang yang sedang tertawa bahagia , terlihat sekali dari bentuk mulutnya yang terbuka lebar , menunjukkan sedang tertawa bahagia. Dan pemilihan warna yang cerah

Yang berwarna , merah menggambarkan ekspresi wajah atau mimik orang yang sedang marah , terlihat dari wajahnya yang cemberut, dan pemilihan warna merah yang sesuai dengan ekspresi sedang marah.

yang ketiga yaitu yang berwarna biru kehijauan , menggambarkan ekspresi wajah atau mimik orang yang sedang sedih. Terlihat sekali dari ekspresi wajahnya dan matanya yang menunjukkan kesedihan, dan dapat terlihat dari pemilihan warnanya yang agak gelap.

Dirangkum dari berbagai sumber oleh (armanda siryogiawan (4). edy susanto (32)

Badai Pasti Berlalu

Affandi adalah seorang pelukis yang dikenal sebagai Maestro Seni Lukis Indonesia, mungkin pelukis Indonesia yang paling terkenal di dunia internasional, berkat gaya ekspresionisnya yang khas. Pada tahun 1950-an ia banyak mengadakan pameran tunggal di India, Inggris, Eropa, dan Amerika Serikat. Pelukis yang produktif, Affandi telah melukis lebih dari dua ribu lukisan. Beliau wafat pada 23 Mei 1990.
Salah satu karyanya yang terkenal yaitu lukisan yang berjudul Perahu dan Matahari (Badai Pasti Berlalu).

Lukisan ini menganut aliran ekspresionisme atau abstrak. Beliau menggunakan teknik ini dengan cara menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya. Sehingga terlihat seperti sebuah coretan yang berantakan. Namun sesungguhnya coretan tersebut memiliki berbagai makna yang dalam. Makna lukisan tersebut mengisahkan perjuangan manusia mengarungi samudera luas untuk mencapai suatu tempat yang dituju, dan dalam perjalanan tersebut banyak sekali rintangan, mulai dari ombak badai yang kecil hingga besar, namun setelah ombak dan badai berlalu, secercah matahari memberikan sinarnya, membawa mereka hingga suatu tempat tujuan yang mereka inginkan. Dari kisah mereka bisa diambil falsafah kehidupan, dimana mereka berhasil mengarungi samudera luas, karena memiliki sebuah tujuan pasti dan keinginan yang besar untuk meraih apa yang mereka inginkan, mereka gigih berusaha dan tidak pernah menyerah, mereka tidak perduli sebanyak apapun , sebesar apapun badai dan ombak menghadang, mereka menghadapinya, karena ombak dan badai pasti akan berlalu, berganti dengan indahnya sinar matahari, menuju tempat impian mereka.

Editor:
Ahda Widya Trinanda Ardan Fachreza Galih Adi Purwandika Insan Luhur Budi (IPA 1/2)

LAHIRNYA ORGANISASI SENI RUPA INDONESIA

Lahirnya organisasi seni rupa Indonesia dimulai dengan lahirnya PERSAGI (Persatuan Ahli – Ahli Gambar Indonesia) pada masa cita nasional yang dilatarbelakangi terjadinya pergolakan di Bangsa Indonesia dalam segala bidang salah satunya bidang kesenian. Tokoh kesenian masa itu adalah S.Sudjodjono yang berusaha mendapatkan hak yang sejajar dengan bangsa lain. Beliau merasa tidak puas dengan kehidupan seni rupa masa Indonesia jelita yang serba indah karena bertolak belakang dengan kenyataan kondisi Indonesia pada masa itu. Karena itu S.Sudjodjono dan Agus Jayasuminta beserta kawan – kawannya mendirikan PERSAGI yang bertujuan untuk mengembangkan seni lukis di Indonesia dengan mencari dan menggali nilai – nilai asli yang mencerminkan kepribadian Indonesia yang sebenarnya, selain itu PERSAGI juga berupaya mengimbangi Lembaga Kesenian Asing Kunstring yang mampu menghimpun lukisan – lukisan bercorak modern.
Cita PERSAGI masih berlanjut pada masa pendudukan jepang dan masih melekat pada para pelukis. Para pelukis menyadari seni lukis berperan penting untuk kepentimgan revolusi. Selain PERSAGI , pada masa ini didirikan KEIMIN BUNKA SHIDOSO (Lembaga Kesenian Indonesia – Jepang) oleh Dai Nippon dan diawasi seniman Indonesia yang bertujuan untuk propaganda pembentukan kekaisaran Asia Timur Raya. Kemudian berdirilah PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) sebagai organisasi asli orang Indonesia yang didirikan tahun 1943 oleh Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH. Mansur yang bertujuan untuk memperhatikan dan memperkuat perkembangan seni dan budaya khususnya seni lukis yang dikelola S.Sudjodjono dan Afandi , selanjutnya bergabunglah beberapa pelukis dalam PUTERA seperti Hendra, Sudarso, dan sebagainya.
Setelah Indonesia merdeka , organisasi dibidang seni rupa (lukis) bermunculan diantaranya:
a) Diawali oleh SIM (Seniman Indonesia Muda) berdiri tahun 1946 yang dipimpin S.Sudjodjono, dengan anggotanya: Affandi, Sudarso, Gunawan, Abdus Salam, Tribus dll.
b) Karena selisih paham, Affandi dan Hendra keluar dari SIM dan mendirikan Perkumpulan Pelukis Rakyat tahun 1947. Affandi dan Hendra menjadi ketua dalam organisasi ini dengan anggota diantaranya Sasongko, Kusnadi, dll.
c) Selanjutnya tokoh SIM dan Pelukis Rakyat mendirikan Lembaga pendidikan Akademi Seni Rupa pada 1948. Lembaga ini memberikan kursus menggambar yaitu Prabangkara.
d) Selain itu juga berdiri Balai Perguruan Tinggi Guru Gambar tahun 1950 di Bandung yang dipelopori oleh Prof.Syafei Sumarja dibantu Muhtar Apin,Ahmad Sadali dan lain – lain.
e) Kemudian pada tahun 1959 Balai Perguruan Tinggi Guru Gambar berubah menjadi fakultas seni rupa di Institut Teknologi Bandung.

s.soedjojono

Lukisan Kawan-kawan Revolusi ,merupakan karya Sindudarsono Sudjojono pada tahun 1947.
Dengan media cat minyak di lukis atas kanvas dan memiliki ukuran 95×149 cm.
Lukisan ini dibuat ketika Bangsa Indonesia berusaha mempertahankan kemerdekaan. Saat itu S Sudjojono tetap berkarya dengan melukis kawan-kawan pejuang yang berusaha mempertahankan kemerdekaan bangsa. Lukisan Kawan-kawan Revolusi seakan bercerita bahwa pada masa itu seluruh pejuang saling bahu membahu mempertahankan kemerdekaan. Semangat dari para pejuang tercermin dalam lukisan ini.

editor : Bondan Arif Dhea Amelia Lidya Desiederya Ratna Putri Rizky Annisa Kelas XII IPA 5

BERBURU BANTENG PADA SENI RUPA INDONESIA MASA RINTISAN

Raden saleh adalah perintis seni modern. Ia di lahirkan oleh seorang ibu yang bernama raden mas adjeng zarip hoesen. Dia di lahirkan di dekat terbaya, umur 10 tahun dia dititipkan kepada pamannya yaitu bupati semarang
Kegemararannya menggambar nampak pada saat dia masih bersekolah. Keramahannya dalam bergaul membawa dia dapat mudah bergaul dengan orang belanda.
Prof. Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menilainya pantas mendapat ikatan dinas di departemennya.
Kebetulan pula di instansi itu ada pelukis keturunan Belgia, A.A.J Payen yang didatangkan dari Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Payen tertarik pada bakat Raden Saleh dan lantas berinisiatif memberikan bimbingan.
Raden saleh dibantu oleh payen untuk mendalami seni rupa barat dan belajar teknik pembuatannya. Misalnya menggunakan cat minyak. Dia diajak keliling oleh payen untuk melihat pemandangan yang bisa dilukisnya.
Payen terkesan dengan bakatnya dan mengusulkan untuk belajar ke belanda yang disetujui oleh Van Der Cappelen. Capellen membiayai raden saleh belajar ke belanda
Namun, keberangkatannya itu menyandang misi lain. Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis, selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa,Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu. Ini menunjukkan kecakapan lain Raden Saleh.
Raden saleh wafat pada tanggal 23 april 1880 di bogor. Dia tidak punya atau murid untuk meneruskan bakatnya. Namun hanya hasil karyanya yang tertinggal, contohnya Seorang tua dan Bola Dunia (1835), Berburu Banteng (1851), Bupati Majalengka (1852), Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857), Harimau Minum (1863) dan Perkelahian dengan Singa (1870).


Ini merupakan lukisan BERBURU Banteng. Itulah judul salah satu lukisan legendaris hasil karya Raden Saleh Syarif Bustaman (1807 – 1880), pelukis pribumi Indonesia yang disebut-sebut sebagai perintis aliran seni lukis modern (modern art) di tanah air
(EDITOR :FEBRIAN WN PUTRA K THORIQ M. ZIKRI A (XII IPS 3)