“EXPLOITASI FAUNA”

ipa2d
Dalam seni instalasi ini, kami memilih tema “EXPLOITASI FAUNA” karena semakin bertambahnya usia bumi ternyata juga masih banyak pengeksploitasi-an fauna, yang dapat mengakibatkan berkurangnya keanekaragaman fauna di Indonesia. Seni instalasi kami menceritakan tentang fauna (harimau sebagai obyek yang kami pilih) yang sedang berhadapan dengan seorang pemburu di sebuah ring yang melambangkan arena pertarungan. Dengan tujuan, agar penerus bangsa seperti kami, dapat lebih peduli lagi dengan fauna di Indonesia, karena fauna di Indonesia dapat menjadi lambang jati diri negara Indonesia.
ipa2a

ipa2b

ipa2c

ipa2e

Karya :

Debby Anggara
Desy Annisyah, Nandya Laksita
Ermayani Sholikah
Galuh Sasanti
Nadia Rizki
Puput Istika
Yuli Indra
Ardika Riadinata
Dalifa Iqbal
Yandika Fattaah

Iklan

BELAJAR MENGENAL REYOG PONOROGO

Reyog Ponorogo tidak hanya perlu kita kenal lewat media masa saja, akan tetapi lebih mendekat pada apa yang menjadi salah satu bagian dari Reyog tersebut perlu kita menyentuhnya agar semangat melestarikan dan mempelajari lebih dalam tentang kesenian tersebut tidak lewat omong kosong belaka atau cacian terhadap bangsa lain yang mereka juga ingin Reyog  hidup dan berkembang di wilayahnya. Banyak orang yang ngomong sangat mencintai budaya Indonesia, akan tetapi melihatnya saja belum pernah.  Untuk lebih mendekatkan dan mengenalkan budaya tradisional kita kami siswa SMA NEGERI 1 MADIUN belajar mengenal seni Reyog lewat beberapa Properti Reyog yang kami buat semampu kami, Semoga dapat menjadikan pelajaran yang sangat berharga di kemudian hari.

 

KELAS

ALL

X I

IPA 3 4

Nonton Wayang Kulit di ATV Madiun

Lakon : Kresna Duta
Dalang : Ki Anom Suroto



Kisah ini merupakan penyebab terjadinya perang besar Baratayudha Jayabiangun. Sejak kalah dalam pertaruhan, Pandawa langsung meninggalkan Indraprastha selama 13 tahun.
Alkisah setelah melewati masa tersebut, Pandawa bermaksud untuk merebut kembali Ngastina dan jajahannya dari tangan Prabu Duryudana, tetapi berkali-kali usaha tersebut mengalami kegagalan.
Putus asa karena penolakan Prabu Duryudana, maka Prabu Drupada menyempatkan diri menjadi duta ke Ngastina untuk merebut kembali Negara Ngastina. Tetapi juga tidak berhasil meluluhkan hati Prabu Duryudana yang tetap mempertahankan kekuasaannya.
Setelah itu, Pandawa meminta kepada Dewi Kunthi untuk menjadi duta para Pandawa ke Ngastina. Ternyata Dewi Kunthi pun tidak berhasil menjalankan tugasnya. Lalu atas petunjuk dari Prabu Matswapati, Pandawa memohon pertolongan kepada Raja Dwarawati yaitu Sri Kresna untuk menunaikan tugas yang sama.
Di balairung Kerajaan Wirata, Prabu Matswapati bersama Pandawa sedang menanti kehadiran Sri Kresna. Kedatangan titisan Dewa Wisnu ini atas undangan Prabu Matswapati dan Prabu Puntadewa agar berkenan menjadi wakil terakhir demi merebut kembali hak para Pandawa atas Negara Ngastina, Indraprasta dan semua jajahan Prabu Duryudana.
Prabu Kresna pun bersedia dengan membawa Raden Setyaki. Sadar akan kebesaran Sri Kresna, Para Pandawa dan Prabu Matswapati yakin usahanya akan menuai keberhasilan.
Diperjalanan Prabu Kresna dihadang Batara Narada yang membawa amanat dari kayangan untuk menjadi saksi pertemuan penting antara Prabu Kresna dan Prabu Duryudana
Sesuai pesan Pandawa, Sri Kresna pun lebih dahulu singgah di Ksatriyan Panggombakan untuk meminta restu kepada Dewi Kunthi , yang sejak kegagalannya yang lalu tidak sampai hati untuk kembali ke Negara Wirata.
Keesokan harinya, Sri Kresna didampingi oleh pengikutnya menemui Prabu Duryudana yang sedang menyelenggarakan Pasewakan Agung. Prabu Kresna pun menyampaikan pesan agar tidak terjadi partumpahan darah.
Resi Bismo dan Prabu Salya memberi masukan kepada Prabu Duryudana untuk memenuhi tuntutan Pandawa. Sayangnya kputusan Prabu Duryudana tidak bertahan lama karna dihasut oleh Dewi Gandari dan Patih Sengkuni untuk mencabut keputusannya. Prabu Duryudana pun termakan hasutan tersebut yang akhirnya mmbuat Prabu Kresna marah besar dan terpiculah perang besar Baratayuda Jayabinangun tersebut.

Cuplikannya silahkan lihat berikut ini

Oleh Afrizal Gama Kiswara – Xi