SALAH SATU CONTOH SENI RUPA KLASIK


Candi Singhasari atau Candi Singasari atau Candi Singosari adalah candi Hindu – Buddha peninggalan bersejarah Kerajaan Singhasari yang berlokasi di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indonesia.
Candi Singosari ditemukan pada sekitar awal abad 18 (tahun 1800-1850) dengan pemberian nama/sebutan Candi Menara oleh orang Belanda.
Cara pembuatan candi Singhasari ini dengan sistem menumpuk batu andhesit hingga ketinggian tertentu selanjutnya diteruskan dengan mengukir dari atas baru turun ke bawah. (Bukan seperti membangun rumah seperti saat ini). Candi ini berlokasi di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, (sekitar 10km dari Kota Malang) terletak pada lembah di antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna di ketinggian 512 m di atas permukaan laut.

diposting oleh : dian budi ariyanti x-i

Iklan

Ngarai Sihanok (INDONESIA JELITA / MOOI INDIE)

INDONESIA JELITA / MOOI INDIE
Pada artikel kami kali ini, kami akan membahas tentang periode Indonesia Jelita / Mooi Indie.Sebelumnya kami akan membahas mengenai apa itu Periode Indonesia Jelita / Mooi Indie.

Apa pengertian periode Indonesia Jelita / Mooi Indie ?
Mazhab atau cara pandang kolonialisme Belanda atas negeri jajahannya
yaitu Hindia Belanda ( Indonesia ) yang lebih menonjolkan keindahan luar tanpa dapat membawakan latar belakang karya kebudayaan yang sebenarnya.

Sejarah singkat Periode Indonesia Jelita / Mooi Indie
Dalam masa Hindia-belanda, Indonesia memasuki periode melukis realis yang di kenal dengan istilah Mooi Indie.periode ini di mulai ketika Indonesia telah mengalami kekosongan hampir setengah abad sejak perkembangan masa awal yang di rintis oleh Raden Saleh.
Pengangkatan tema seni lukis ini berlangsung pada masa hindia Belanda antara tahun 1952-1938.
Pada awalnya kecenderungan pengambilan tema lukisan pemandangan alam di hadirkan oleh pemerintah Hindia Belanda dari para pelukis dari negara asal yang kemudian di ajarkan pada pelukis Indonesia.

Bagaimana ciri-ciri Periode Indonesia Jelita / Mooi Indie ?
1. Objek lukisan didominasi oleh unsur Keindahan
2. Cahaya dan warna-warni alam dilukis / digambarkan semirip aslinya.
3. Suasana keindahan alam dilebih-lebihkan.

Setelah memahami beberapa penjelasan mengenai Periode Indonesia Jelita / Mooi Indie,Berikut ini merupakan contoh Lukisan pada masa Periode Indonesia Jelita / Mooi Indie

Judul : Ngarai Sihanok
Karya : Wakidi

Secara teknis, penggambaran lukisan pemandangan alam ini menggunakan faedah teknis yang telah menjadi kebiasaan dan ketentuan dalam seni lukis Belanda dan Eropa. Dalam teknis perspektif harus di perhitungkan secara teliti dan mendetail. Ruang Lukisan pun di bagi menjadi tiga bagian yaitu depan,tengah,dan belakang. Salah satu dari ruang itu akan di tonjolkan dan di beri cahaya sedangkan ruang0ruang lainnya akan di redam dan di matikan. Warna-warna pun di pilih dan di ambil dengan ketentuan yang lazim, di campur baik-baik dan menghindari pencampuran di kanvas untuk menjauhkan kesan kotor, dan kemudian di goreskan secara halus di atas kanvas.

Penilis: Elga ,Andira ,Fadela ,Martina ,Nikmas XII IPS 3

Seni Rupa Purba dan Seni Rupa Klasik Nusantara

SENI RUPA PURBA
Gong ini dibuat sekitar 600 tahun sebelum masehi atau sebelumnya, sampai abad ketiga Masehi.
Gong ini merupakan gong perunggu buatan kebudayaan Dong Son, yang terdapat di delta Sungai Merah, Vietnam Utara. Gong Nekara dibawa dari Indo China oleh Sawerigading dan ada satu lagi di China. Gong ini dianggap sebagai suami dan yang ada di China dianggap sebagai isteri.
Gong Nekara memiliki luas lingkaran sebesar 396 cm persegi, luas lingkaran pinggang 340 cm persegi, dan tinggi 95 cm persegi. Keunikan yang dimiliki gong ini adalah adanya gambar bermotif flora dan fauna terdiri dari gajah 16 ekor, burung 54 ekor, pohon sirih 11 buah dan ikan 18 ekor. Sementara dipermukaan gong bagian atas terdapat 4 ekor arca berbentuk kodok dengan panjang 20 cm dan di samping terdapat 4 daun telinga yang berfungsi sebagian pegangan. Pada bidang pukul terdapat hiasan geometris, demikian pula pada bagian tengah gong terdapat garis pola bintang berbentuk 16. Nekara secara vertikal terdiri atas susunan kaki berbentuk bundar seperti silinder, badan dan bahu berbentuk cembung.

KARYA SENI RUPA KLASIK (Nusantara)
Kumpulan karya dan konsep seni rupa yang muncul sejak dimulainya abad ke-empat masehi dan berlangsung di Nusantara.
Tujuan dibuatnya Seni Rupa Klasik Nusantara adalah Sebagai media untuk berbagai kegiatan sakral yang suci pada zaman Hindhu-Budha di Indonesia atau kegiatan lain yang berhubungan dengan agama.
Kebanyakan hasil karya dari seni rupa klasik jaman dahulu berupa candi, pura,patung, hiasan dan pakaian adat.
Candi Prambanan termasuk dalam salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO dan merupakan Candi Hindu terbesar di Indonesia, bahkan terbesar di Asia Tenggara. Candi ini terletak di Jl. Solo Km 16, Desa Prambanan, Propinsi Yogyakarta, Indonesia.

Candi Prambanan di bangun sekitar tahun 850 Masehi pada abad ke-9 oleh Dinasti Sanjaya, pada masa masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Candi ini di bangun sebagai tandingan untuk Dinasti Syailendra yang membangun Candi Borobudur dan Candi Sewu di daerah tersebut. Para sejarawan menyatakan bahwa pembangunan Prambanan mungkin dimaksudkan untuk menandai kembalinya Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu setelah hampir satu abad jatuh di bawah dominasi Dinasti Syailendra yang beragama Buddha di Jawa Tengah, sedangkan nama Prambanan berasal dari nama desa dimana candi itu berdiri.
Candi Prambanan memiliki 3 candi utama yang terletak di halaman utama, yaitu Candi Wisnu (pemelihara), Brahma (pencipta), dan Siwa (penghancur). Ketiga candi tersebut merupakan lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu dengan posisi candi menghadap ke arah timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat dan di dedikasikan sebagai kendaraan (wahana) untuk masing-masing dewa. Banteng Nandi untuk Siwa, Angsa suci Hamsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.
Arsitektur Candi Prambanan mengikuti arsitektur Hindu berdasarkan tradisi Vastu Shastra. Desain candi memasukkan mandala dalam pengaturan candi dan juga menara khas candi Hindu yang menjulang tinggi. Candi Prambanan awalnya bernama Shivagrha dan didedikasikan untuk dewa Siwa. Candi Prambanan ini dirancang untuk meniru Meru, gunung suci tempat tinggal para dewa Hindu, dan rumah Siwa. Seluruh kompleks Candi merupakan model alam semesta menurut kosmologi Hindu dan lapisan-lapisan Loka.

EDITOR : Isabella Ratna M.D KLAS X-I

Badai Pasti Berlalu

Affandi adalah seorang pelukis yang dikenal sebagai Maestro Seni Lukis Indonesia, mungkin pelukis Indonesia yang paling terkenal di dunia internasional, berkat gaya ekspresionisnya yang khas. Pada tahun 1950-an ia banyak mengadakan pameran tunggal di India, Inggris, Eropa, dan Amerika Serikat. Pelukis yang produktif, Affandi telah melukis lebih dari dua ribu lukisan. Beliau wafat pada 23 Mei 1990.
Salah satu karyanya yang terkenal yaitu lukisan yang berjudul Perahu dan Matahari (Badai Pasti Berlalu).

Lukisan ini menganut aliran ekspresionisme atau abstrak. Beliau menggunakan teknik ini dengan cara menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya. Sehingga terlihat seperti sebuah coretan yang berantakan. Namun sesungguhnya coretan tersebut memiliki berbagai makna yang dalam. Makna lukisan tersebut mengisahkan perjuangan manusia mengarungi samudera luas untuk mencapai suatu tempat yang dituju, dan dalam perjalanan tersebut banyak sekali rintangan, mulai dari ombak badai yang kecil hingga besar, namun setelah ombak dan badai berlalu, secercah matahari memberikan sinarnya, membawa mereka hingga suatu tempat tujuan yang mereka inginkan. Dari kisah mereka bisa diambil falsafah kehidupan, dimana mereka berhasil mengarungi samudera luas, karena memiliki sebuah tujuan pasti dan keinginan yang besar untuk meraih apa yang mereka inginkan, mereka gigih berusaha dan tidak pernah menyerah, mereka tidak perduli sebanyak apapun , sebesar apapun badai dan ombak menghadang, mereka menghadapinya, karena ombak dan badai pasti akan berlalu, berganti dengan indahnya sinar matahari, menuju tempat impian mereka.

Editor:
Ahda Widya Trinanda Ardan Fachreza Galih Adi Purwandika Insan Luhur Budi (IPA 1/2)

Mengenal Agus Djaja Suminta

Teman-teman kali ini kami akan membahas tentang organisasi yang ada pada masa Persagi. Banyak tokoh yang muncul saat itu salah satunya adalah Agus Djaya. Tokoh yang satu ini lahir di Pandeglang, Banten tanggal 1 April 1913 dengan nama aslinya Raden Agus Djaya Suminta, Beliau merupakan pendiri Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia), yang juga ketua selama empat tahun pada 1938 – 1942.
Semasa kecilnya, saudara kandung, R. Otto Djaya yang juga terkenal sebagai pelukis besar Indonesia ini pernah berkeinginan menjadi dokter dengan alasan banyak anggota keluarga yang menjabat profesi tersebut, namun karena bakat seni yang kuat dari ibunya ditambah pengarahan dari guru gambarnya semasa sekolah di H.I.S. Pandeglang, Suwanda Mihardja, membuat Agus Djaja menjadi seorang pelukis. Setelah lulus HIS Agus Djaja melanjutkan sekolah ke MULO, Bandung pada tahun 1923, kemudian ke Middelbare Landbouw School, Bogor (1923-1924), dan diteruskan ke H.I.K. Lembang,Bandung tahun 1927.
Selama di Eropa, Agus Djaya juga berkenalan dengan pelukis-pelukis besar Eropa seperti Pablo Picaso di Vallauris, Perancis Selatan. Juga bersahabat dengan perupa dunia Salvador Dali di Madrid, Spanyol. Termasuk dengan pematung Paris asal Polandia, Ossip Zadkine.
Setelah memiliki kesempatan yang luar biasa di luar negri, akhirnya ia kembali juga ke Tanah Air. Selama di tanah air, prestasi beliau makin tenggelam dengan dunia seni rupa, hingga suatu ketika ia memutuskan meninggalkan Ibukota, hijrah ke Kuta, Bali. Di sanalah ia mendirikan studio sekaligus galeri impian di tepi Pantai Kuta.

sumber foto : http://blog-senirupa.blogspot.com/2012/12/karya-lukisan-agus-djaya-suminta.html

Banyak karya yang ia hasilkan pula, salah satunya adalah lukisan yang berjudul Srilanka Lady Standing. Dari lukisan ini, Agus Djaja ingin menggambarkan ciri khas dari wanita Srilanka. Diatas kanvas ukuran 111,5 x 146 cm dengan cat air, beliau menggambarkan gadis itu dengan berpakaian kain berwarna kuning yang panjang lalu berselubungkan kain merah ditangannya serta terdapat aksesories gelang yang banyak pada tangan kanan gadis itu, terlihat bahwa Agus Djaja memang memiliki kemampuan untuk menggambarkan ciri khas dari seseorang. Wajahnya pun juga dilukis dengan penuh kemiripan orang Srilanka. Terdapat pula tanda seperti titik merah di dahi yang dipakai wanita Srilanka pada umumnya, tak lupa Agus Djaja juga memberi warna kulit sawo matang karena Srilanka juga merupakan negara yang warna kulit penduduk aslinya adalah coklat/sawo matang.
Nah teman-teman, sekilas penjelas dari kami. Selamat membaca dan untuk kritik dan sarannya ditunggu lho..
Oleh: Clarisa Tara, Deliyanda, Destika Agustina, Haerani Rahima

SENI INSTALASI YOGYAKARTA

Assalamu’alaikum ya akhi ya ukhti
Salam sejahtera bagi kita semua. Pada kesempatan kali ini kami dari kelas seni rupa XII IPA 2 akan mempresentasikan hasil diskusi dari kelompok kami yang berjudul “Seni Instalasi Yogyakarta”. Berikut presentasinya,
* Pengertian:
menurut kelompok kami, seni instalasi merupakan karya seni rupa yang diciptakan dengan menggabungkan berbagai media, membentuk kesatuan baru, dan menawarkan makna baru. Karya seni instalasi tampil secara bebas tidak menghiraukan pengelompokan cabang- cabang seni rupa ( seni lukis, seni patung, seni grafis, dll).

*Ciri Khas Seni Instalasi:
a. secara visual: secara fisik seni instalasi memiliki ciri khas yang dibentuk dari gabungan berbagai media yang dirangkai menjadi satu kesatuan yang padu, sehingga akan membentuk kesatuan baru yang memiliki makna tertentu.

b. secara makna: makna yang terkandung dari seni instalasi merupakan hal-hal yang bersifat kontemporer dan juga mengandung kritik, sindiran atau keprihatinan atas peristiwa yang terjadi saat ini.

salah satu contoh seni instalasi sebagai berikut :


Menatap Pintu Semesta

Apresiasi Karya :
karya seni isnstalasi diatas berjudul MENATAP PINTU SEMESTA yang diciptakan oleh Purjito, seniman dari Yogyakarta pada tahun 2009 dengan ukuran 220 x 100 x 100 cm menggunakan media Kayu dan Polyresin.Menurut kelompok kami, makna dari seni instalasi diatas adalah berkarya merupakan cara dan bentuk belajar tentang bagaimana mengisi hidup, dengan menyapa diri dan sekaligus yang lain sebagai hubungan yang tak terpisahkan. sehingga waktu terisi penuh tanda – tanda ungkapan jiwa, apapun bentuk dan kwalitasnya merupakan proses pribadi berkarya dekat dengan mimpi – mimpi . Berkarya bisa mengurangi dunia yang bebas tanpa hambatan. Dengan berkarya, pikiran dan jiwa menjadi sehat sehingga terjaga keseimbanganya. Berkarya merupakan tantangan, perlu keberanian, keyakinan dan sikap yang terus menerus harus menekuninya. Dari seni instalasi diatas, Purjito ingin dunia ini menjadi kecil dan semua ada di dekatnya, sebagai bagian seni hidup yang lebih luas dan mendalam.

wahai ukhti dan akhi alias teman – temanku semuanya, demikianlah presentasi dari kelompok 7 kelas seni rupa XII IPA 2 yangt beranggotakan: Dewi Mashitoh, Fitriya Nur Rahmah, Galuh Ajeng Listyaningrum, dan Elisa Roma Dome Sihite, apabila ada kesalahan, kami mohon maaf,, burung irian, burung cendrawasih, cukup sekian dan trimakasih. ..
wassalamualaikum warahmatullahi wabarukatuh..
ingin tau info seni rupa instalasi lebih lanjut ?????
klik aja disini atau disini

kami tunggu kritik dan sarannya ya ….

LAHIRNYA ORGANISASI PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia)

Dalam kesempatan kali ini,kami akan membahas tentang lahirnya salah satu organisasi seni rupa Indonesia yaitu PERSAGI atau singkatan dari nama organisasi Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia yang lahir 23 Oktober 1938 di salah satu gedung sekolah dasar di daerah Jakarta di Gang Kaji. Organisasi ini petama kali diketuai oleh Agus Djaya Suminta dan sekretarisnya S. Sudjojono, dengan anggota antara lain: Ramli, Abdulsalam, Otto Djaya, S. Tutur, Emira Soenassa, L. Setijoso, S. Sudiardjo, Saptarita Latif, H. Hutagalung, Sindusisworo, TB. Ateng Rusyian, Syuaib Sastradiwilja, Sukirno dan Suromo. Berdirinya PERSAGI mempunyai tujuan agar para seniman lukis Indonesia dapat menciptakan karya seni yang kreatif dan berkepribadan Indonesia. Tujuan tersebut berlandaskan pada misi untuk mencari sintesis dari lukisan tradisional dan modern, serta mengembangkan gaya mereka sendiri yang bercirikan ke-Indonesia-an.
Dalam kesempatan ini juga,kami mengambil salah satu contoh gambar dari S.Sudjojono yaitu Ketoprak.
Berikut gambar yang kami peroleh.

Lukisan ini berjudul ketoprak,dibuat oleh Sudjojono pada tahun 1969.Sudjojono melukis karya ini di atas media Oil on Canvas berukuran 60 cm x 80 cm. Komposisi warna dan juga tingkat kecerahannya benar benar menampilkan suatu suasana yang bisa di bilang bagus.Selain itu gambar dan warna pada orang orang dilukisan juga sudah bisa membuat orang yang melihat merasa kagum akan keindahannya. Selain itu masih banyak lagi karya sudjojono yang bertemakan keindahan alam dan juga aktivitas manusia.

Penulis : Rudy, Fajar Abi, Ghanu

Apresiasi 2 karya lukisan Affandi

Kami kami akan membahas 2 lukisan Affandi yakni Borobudur di Pagi Hari dan Para Pejuang

Judul : Borobudur Pagi Hari
Tahun : 1983
Ukuran : 150 cm x 200 cm
Media : Cat Minyak

“Borobudur Pagi Hari” merupakan salah satu karya Affandi yang terinspirasi oleh megahnya candi Borobudur dan lingkungan sekitar pada masa itu, saat Affandi melintas dan memperhatikan Borobudur di pagi hari.
Obyek matahari selalu menarik perhatian di beberapa karya beliau sebagai fokus pendukung utama. Warna – warna dingin dan suasana tenang mendominasi lukisan ini karena melukiskan suasana pagi hari yang cerah . Dan dilukisan ini Affandy lebih nenonjolkan obyek alam sebagai latar belakang. Perpaduan warna yang digunakan semakin menghidupkan lukisan tersebut karena warna yang digunakan padu antara warna satu dengan warna yang lain.
Dan dilukisan tersebut gambar candi Borobudur terlihat sangat jelas tanpa kita harus menganalisis makna lukisan tersebut. Dan bentuk mataharinya tidak menyerupai matahari tetapi itu semua malah membuat lukisan tersebut bagus karena menyatu dengan warna langit yang ada pada lukisan tersebut. warna hijua di lukisan tersebut menggambarkan pepohonan yang ada di situ. walaupun gambar pohon tersebut tidak jelas tetapi sangat bagus. warnyapun juga kontras dengan warna lainnya.

Judul : Para Pejuang
Tahun : 1972
Ukuran : 100 cm x 135 cm
Media : Cat Minyak

Lukisan affandi ini berjudul “Para Pejuang” dilukis menggunakan cat minyak pada tahun 1972. Lukisan ini menggambarkan mengenai semangat pahlawan – pahlawan Indonesia untuk meraih kemerdekaan Indonesia dengan mengorbankan jiwa dan raga mereka untuk Indonesia. Lukisan ini memiliki nilai dan makna historis yang tinggi, dimana karya ini terinspirasi dari semangat baja para Pejuang Indonesia.
Warna-warna yang terang, serta keunikan goresan pada lukisan tersebut menjadi satu sebuah kombinasi sempurna dalam karya lukisan bernilai seni tinggi. Akan menjadi koleksi kebanggaan tak ternilai bagi siapapun yang mengkoleksi Karya Lukisan hebat ini. Dalam lukisan ini sangat terlihat perjuangan para pahlawan yang sangat semangat memperjuangkan Indonesia.
Dan dalam lukisan tersebut terlihat juga semangat para pahlawan yang sangat berkobar – kobar seperti api. Dan tidak lupa dalam lukisan tersebut adanya bambu runcing, bendera merah putih, serta ikat kepala sebagai ciri khas para pejuang bangsa Indonesia.

Editor : Anggie Rena Sartika, Cahya Mardiah Anugrahani, Rizki Dewi Wijayanti, Dewi Citrawati XII IPA 3

MASA INDONESIA JELITA (Indie Mooi) 1878

Hallo temen-temen semua…..selamat datang di seni rupa indonesia periode INDONESIA JELITA! Yups ini merupakan salah satu pekembangan periode seni rupa yang bakal kami bahas kali ini.
Ini dia….” MASA INDONESIA JELITA “adalah salah satu periode seni rupa yang berkembang di Indonesia setelah masa perintisan. Masa INDONESIA JELITA ini muncul pada tahun 1800an sampai 1900an di indonesia.
Pada masa INDONESIA JELITA ini pelukis-pelukis lebih menonjolkan pada keindahan alam yang ada di Indonesia. Mungkin itulah sebabnya kenapa periode ini disebut juga sebagai periode HINDIA MOLEK.Konsep ini sangat berbeda dengan konsep-konsep pada periode-periode sebelumnya yang tidak begitu mempertimbangkan objek alam secara utuh dalam lukisannya.
Pada periode ini juga ditandai dengan datangnya seniman-seniman luar negeri yang sangat antusias melukis pemandangan di Indonesia.
Inilah beberapa Tokoh seniman dari masa Indie Mooi :Abdullah Soro Subroto(1878-1941), Mas Pirngadi (1875 – 1936), Wakidi,Sanento Yuliman, Henk Ngantung, Lee Man Fong, Ruddolf Bonnet, Walter Spies, Romuldo Locatelli, Lee Mayer,W G Hofker.
“Iyakan banyak seniman luarnya!!.Itu hanya sebagian kecil temen-temen. Masih banyak lagi tokoh-tokoh dan karya lukisan yang terkenal.”
Setelah kita sedikit mengulas tentang masa periodenya, selanjutnya kita ulas sedikit tentang salah satu karya pada periode INDIE MOoI ini. Salah satuya yaitu lukisan karya Wakidi.
Yups that is Mountain Landscape. Ini dia gambarnya !!!!

Judul :Mountain Landscape,
karya :Wakidi,
media : Cat minyak diatas kanvas,
ukuran :139.5 x 197 cm
Yups guys….sekarang kami akan membahas lukisan “ Mountain Landscape “ karya Wakidi ini. Di dalam lukisan ini kita bisa menemukan keindahan alam sebagai objeknya. Lukisan inipun hanya menyenangkan secara visual dan tidak ada kreativitas-kreativitas baru untuk menonjolkan makna dari lukisan ini. Jadi, ini merupakan lukisan yang turistik yaitu lukisan yang langsung menggambar pemandangan alam secara natural serta mempertimbangkan perspektifnya(ruang). Lukisan Wakidi juga menggunakan cat minyak agar karya lukisannya berwarna mencolok tapi naturtal. Lukisan itupun dilukis secara natural tanpa adanya penembahan atau pengurangan unsur-unsur tertentu supaya menonjolkan makna naturalnya. O ya pada periode ini dalam kemahiran teknik melukisnya tidak di dibarengi dengan penonjolan nilai spiritual. So, hanya seperti ini lukisannya.
Tapi dalam lukisan ini kita benar-benar dibawa pada keindahan alam yang disuguhkan Indonesia. Sangat elok dan mengagumkan (menurut kami..).Lukisanya begitu alami dan natural (alami..natural..apa bedanya???).
Ini juga sebagai imbas dari penjajahan di masa Belanda sehingga pelukis hanya menggambar mengenai keindahan-keindahan alam yang ada di zaman belanda. Selain itu, para pemesan lukisan hanya menginginkan karya mengenai keindahan penampakan di Indoneisa. Sehingga ini melatarbelakangi lukisan pada zaman Indonesia Jelita yang lebih dominan mengenai penggambaran keindahan alam di Indonesia. Dan sangat jarang terlihat adanya lukisan dengan bertemakan mengenai tindak anti penjajahan pada zaman Indonesia Jelita atau mungkin pemerintah Belanda mengekang para pelukis dan hanya diperbolehkan untuk menggambar gambar-gambar yang tidak memiliki nilai simbolik. Maka dari itu lukisan ini tidak mencerminkan jiwa merdeka.
“Sekian dulu ya temen-temen pembahasan kami tentang masa INDONESIA JELITA. Semoga tulisan kami ini bermanfaat buat kalian semua. Kami juga mengharapkan banyak usulan-usulan atau saran yang membangun. Jika ada kesalahan dalam penulisannya mohon maaf….”
Bye….!!!

Penulis : Ira Puspitasari, Linda Candra, Pramesthi Sukma, Resti

“Keluarga Berencana” Versi Basoeki Abdullah

Assalamu’alaikum wr. wb.
      Mungkin banyak dari kalian yang belum tahun tentang pelukis yang satu ini. Padahal beliau adalah pelukis yang cukup terkenal pada masanya yaitu pada masa setelah kemerdekaan. Do you know Basuki Abdullah ? Basuki Abdullah adalah seorang maestro pelukis di Indonesia.Beliau lahir pada tanggal 25 Januari 1915 di Surakarta Jawa Tengah. Aliran lukisannya adalah realis dan naturalis. Ia pernah diangkat menjadi pelukis resmi Istana Merdeka Jakarta dan karya-karyanya menghiasi istana-istana negara dan kepresidenan Indonesia, disamping menjadi barang koleksi dari berbagai penjuru dunia. Sangat menakjubkan !
Salah satu karya dari Basuki Abdullah adalah sebuah lukisan yang diberi judul “Keluarga Berencana”. Dalam lukisan ini terdapat tiga ekor kuda yang terdiri atas sepasang kuda dewasa dan seekor kuda kecil. Kuda yang berwarna coklat pekat menggambarkan kegagahan seorang kepala keluarga yang mengayomi keluarganya. Kuda putih melambangkan seorang ibu yang lemah lembut. Serta yang ketiga, anaknya yang merupakan kuda ukurannnya paling kecil. Dengan kata lain lukisan ini sebenarnya menggambarkan sebuah keluarga ideal yang terdiri dari seorang ayah, ibu dan anaknya.
Bulu kuda-kuda tersebut kelihatan sangat nyata. Seperti aliran yang dianut oleh Basuki Abdullah yaitu aliran realisme.Lukisannya menampilkan suatu objek yaitu kuda-kuda yang berada di suatu padang rumput yang gersang karena berwarna cokelat.

 

Judul Lukisan : Keluarga Berencana
Pelukis : Basuki Abdullah
Aliran : Realisme Naturalis
Ukuran : 200 x 90 cm
Tahun Pembuatan : 1975
Media : Water Colour on Paper

Wassalamu’alaikum wr. wb

Penulis : Atika Nurlailika Oktapina, Fitria Amalia, Uswatun Arisah, Eka Indriani, Hilmi Abrooriansyah XII IPA 1/2