“Praktek Penjiksaan oleh Tentara Jepang”

Selama pendudukan Jepang di Indonesia, Jepang ingin mendapat perhatian dan dukungan dari Indonesia dengan cara mengizinkan berdirinya POETRA dan Keimin Bunka Shidoso.

Tahun 1942 berdiri PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) oleh Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH Mansur. Tujuannya memperhatikan dan memperkuat perkembangan seni dan budaya. Khusus dalam seni lukis dikelola oleh S. Sudjojono dan Afandi, selanjutnya bergabung pelukis Hendara, Sudarso, Barli, Wahdi dan sebagainya. Pada tahun yang sama PUTERA berhasil memamerkan hasil lukisan dari para pelukis seniman diantaranya Basuki Abdullah, Affandi, Kartono Yudokusumo dan Nyoman Ngendon. Dan pada tahun 1944 Jepang membubarkan PUTERA setelah menyadari bahwa perkembangan PUTERA ternyata banyak menguntungkan bagi Indonesia.

Pemerintah Jepang mendirikan KEIMIN BUNKA SHIDOSO  pada tahun 1943 yang dipimpin oleh Agus Djaja,  lembaga kebudayaan dari pembentukan pemerintah Jepang yang khusus bekerja untuk mengasah ketrampilan dan memperluas wawasan kesenian bangsa Indonesia. Keimin Bunka Shidoso terdiri dari berbagai aliran seni seperti sastra, musik, tari, drama, film, dan seni murni. Organisasi ini memiliki rencana kerja yakni :

  • menyediakan tempat untuk latihan melukis bersama
  • menyediakan tempat untuk pameran bersama
  • memberikan biaya untuk pameran keliling di kota-kota besar di Indonesia, dengan menyediakan hadiah atau penghargaan untuk lukisan yang dianggap baik
  • menyelenggarakan kursus menggambar secara teknis akademis dengan pengasuh yang telah ditunjuk

Pada tahun 1945 Keimin Bunka Shidoso dibubarkan bersama dengan kemerdekaan Indonesia

Tokoh utama pada masa pendudukan Jepang di Indonesia :
· S. Soedjojono
· Basuki Abdullah
· Emiria Sunassa
· Agus Djaja Suminta
· Barli S
· Afandi
· Hendra dll

lee man fong

Sebuah Lukisan yang sangat ekspresif yang mengungkapkan kekejaman tentara jepang yang tergambar pada lukisan Lee Mang Fong yang berjudul “Praktek Penjiksaan oleh Tentara Jepang”. Dalam karya dengan teknik dasar lukisan Cina itu diperlihatkan seorang pribumi yang dipompa mulutnya sampai perutnya menggelembung oleh dua tentara Jepang. Lewat tertawanya yang kocak, tentara dalam lukisan itu sungguh menjadi cermin praktek penindasan kemanusiaan yang amat liar. Melihat karya-karya yang demikian, ternyata seni lukis Indonesia masa Jepang tetap mampu mengungkapkan jiwa zaman. Pelukis-pelukis itu tidak hanya berhenti pada euforia politik kebudayaan Jepang yang memberikan berbagai  mantra spiritualisme ketimuran

  

Cici A. R. P. XII IPA 5

Priyo Budi Utomo XII IPA 5

Zanuarto Haniffullah XII IPA 5

Nadia Sofianti XII IPS 1

Iklan

Periode persagi

Dalam kesempatan kali ini,kami akan membahas tentang lahirnya salah satu organisasi seni rupa Indonesia yaitu Periode PERSAGI atau singkatan dari nama organisasi Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia yang lahir 23 Oktober 1938 di salah satu gedung sekolah dasar di daerah Jakarta di Gang Kaji. Organisasi ini petama kali diketuai oleh Agus Djaya Suminta dan sekretarisnya S. Sudjojono, dengan anggota antara lain: Ramli, Abdulsalam, Otto Djaya, S. Tutur, Emira Soenassa, L. Setijoso, S. Sudiardjo, Saptarita Latif, H. Hutagalung, Sindusisworo, TB. Ateng Rusyian, Syuaib Sastradiwilja, Sukirno dan Suromo. Berdirinya Perkumpulan pertama di Jakarta ini, berupaya mengimbangi lembaga kesenian asing Kunstring yang mampu menghimpun lukisan – lukisan modern. PERSAGI berupaya dan menggali nilai – nilai yang yang mencerminkan kepribadian Indonesia yang sebenarnya.
PERSAGI mempunyai tujuan agar para seniman lukis Indonesia dapat menciptakan karya seni yang kreatif dan berkepribadan Indonesia. yuk cari tau Tujuan berlandaskan pada misi untuk mencari sintesis dari lukisan tradisional dan modern, serta mengembangkan gaya mereka sendiri yang bercirikan ke-Indonesiaan.*:) senang
Ciri – ciri lukisan pada periode PERSAGI :
·         Mementingkan nilai psikologis
·         Bertema perjuangan rakyat
·         Tidak terikat pada obyek alam yang nyata
·         Memiliki kepribadian Indonesia
·         Didasari oleh semangat dan keberanian
Dalam kesempatan ini juga,kami mengambil salah satu contoh gambar dari S.Sudjojono yaitu di depan kelabu dan lukisan dari agus djaja laki-laki bali dan ayam jago.
Di Depan Kelambu Terbuka,1939, Sudjojono, 86 x 66 cm
Lukisan ini mengikuti gaya para pelukis Persagi, namun metode yang digunakan Sudjojono – menampilkan figur perempuan menghadap pelukisnya , bibirnya terkatup, tubuhnya bertumpu pada lengan kirinya dan matanya menatap tajam ke depan . Figur wanita di lukisan duduk dengan canggung, ia terganggu dan tak nyaman. Nampaknya ia tak nyaman menjadi seorang ‘model’, ‘sebel ’ dengan orang yang sedang melukisnya. Tampak bagai ia berniat hendak pergi begitu sesi pelukisan tersebut berakhir.
S. Sudjojono dengan ahli menangkap kegelisahan sang model perempuan itu sekaligus juga kegelisahan dirinya sebagai pelukis. Perempuan di depan kelambu – kelambu sering dipasang pada tempat tidur – memberikan suatu suasana yang ‘hangat dan pribadi’. Di depan kelambu terbukasangat mungkin merupakan persepsi erotis S. Sudjojono’s ketika merekam saat berpisah – dingin, diam dan datar
Laki-laki Bali dan Ayam Jago, 1958, Agus Djaja S.100 x 140 , cat minyak di atas kanvas
sumber :
Komposisi warna dan juga tingkat kecerahannya benar benar menampilkan suatu suasana yang bisa di bilang bagus.Selain itu gambar dan warna pada orang orang dilukisan juga sudah bisa membuat orang yang melihat merasa kagum akan keindahannya. Selain itu masih banyak lagi karya sudjojono dan agus djaja S yang bertemakan keindahan alam dan juga aktivitas manusia.
Jadi pada intinya menurut kami  Persagi adalah tonggak penanda munculnya nasionalisme di dalam senirupa di masa penjajahan Belanda yang sering menggambarkan tentang kehidupan masyarakat di Indonesia yang sebenarnya *;) mengerlingkan mata menarik kan sejarah tentang periode persagi ? *o|^_^|o musik
Sumber :
sekian ya kawan-kawan *;;) mengerlingkan mata
oleh : septiviani aulia nisa / 32 , nimas niken / 27 , rachmawati / 24

Seni Rupa Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang

Selama masa pendudukan Jepang yaitu pada tahun 1942-1945, untuk menyenangkan hati rakyat, Jepang mengizinkan berdirinya POETERA dan Keimin Bunka Shidoso.

A.     POETERA

POETERA atau Poesat Tenaga Rakjat adalah sebuah organisasi politik yang berdiri tahun 1942. Tujuan utamanya adalah membuat suatu “kekuatan” hebat yang berangkat dari masyarakat dibawah kepemimpinan Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara dan K.H. Mas Mansoer (Empat Serangkai).

Jepang selalu mengawasi kegiatan POETERA , bagi Jepang sendiri POETERA dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan perasaan anti barat dan melalui organisasi ini semua potensi masyarakat Indonesia dapat dipusatkan untuk membantu usaha perang jepang.

POETERA memiliki beberapa departemen. Pada departemen kebudayaan dipimpin oleh Sudjojono dan Afandi. Misi mereka mempromosikan dan mempopulerkan seni murni masyarakat luas. Khususnya pada perkembangan seni modern Indonesia di dunia. Organisasi ini juga berhasil memproteksi seni dari propaganda Jepang khususnya untuk menyukseskan militer Jepang.

Pada tahun 1942 POETERA mulai memamerkan hasil lukisan dari para seniman muda yang bertempat tinggal di Jakarta. Selain itu digelar juga pameran Solo dari pelukis Basuki Abdullah , Affandi , Kartono Yudokusumo dan Nyoman Ngendon. Pada tahun 1943 diselenggarakan beberapa pameran dan masyarakat mempunyai kesempatan untuk melihatnya. Namun pada tahun 1944, pemerintah Jepang membubarkan POETERA karena mereka sadar bahwa perkembangan POETERA justru lebih menguntungkan bangsa Indonesia.

B. KEIMIN BUNKA SIDHOSO

Keimin Bunka Shidoso merupakan pusat kebudayaan yang didirikan secara resmi oleh pemerintah Jepang pada 1943. Keimin Bunka Shidoso dan terdiri dari berbagai aliran seni seperti sastra, musik, tari, drama, film, dan seni murni. Departemen Seni Murni dipimpin oleh Agus Djaja yang dahulu menjadi salah satu pendiri PERSAGI. Untuk kegiatan lembaga ini pihak Jepang meminta Sudjojono, Basuki Abdullah dan Subanto untuk mengajarkan seni murni kepada para seniman baru seperti Zaini, Nashar dan Moctar Apin dari Sumatera Barat; Trubus dan Kusnadi dari Jawa Tengah. Henk Ngantung, Hendra Gunawan, Otto Djaja dan Dullah merupakan seniman-seniman pemula yang karyanya dipamerkan pada pameran Keimin Bunka Shidoso. Keimin Bunka Shidoso berhasil membentuk ikatan yang baik antara seniman dengan masyarakat.  Program ini menyediakan ruangan studio gambar dan fasilitas model, ruangan untuk berpameran, dana untuk melakukan perjalanan guna menambah wawasan pelukis , hadiah untuk para seniman berbakat, memfasilitasi seniman Jepang untuk memberikan workshop.

Pada tahun 1944 dibawah kepemimpinan Sudjono dan Basuki Abdullah perkembangan seni lukis yang semula bersifat kursus lebih difokuskan menjadi lebih akademik.

Pada tahun 1945 Keimin Bunka Shidoso dibubarkan bersama dengan runtuhnya pendudukan Jepang.

Contoh Lukisan pada Masa Pendudukan Jepang

Sumber : http://alixbumiartyou.blogspot.com/2013/07/sejarah-dan-perkembangan-persagi.html

Lukisan Otto Djaja | Pertemuan | 1947

Otto Djaja | Pertemuan| 1947

Karya lukisan berjudul “Pertemuan”, 1947 ini isinya dapat ditafsirkan dengan berbagai interprestasi. Hal itu karena secara tekstual objek-objeknya mengandung potensi naratif yang multi interpretatif. Laki-laki dan perempuan sedang duduk. Laki-lakinya masih berpakaian lengkap dengan jas dan peci, sementara wanitanya memakai kebaya. Gestur tubuh kedua orang itu bisa mengisyaratkan komunikasi yang berisi konflik, sekaligus humor. Namun lebih dari itu, lukisan dengan pengolahan figur-figur naïf, warna cerah dan garisnya yang linier ini, dapat memberikan komentar kehidupan yang tajam. Karya-karya Otto Djaja memang bercirikan karakternya yang naïf, selalu dapat menangkap jiwa kehidupan masyarakat, dan dibingkai dalam warna humor yang satiris.


Astria Ricki Dwi Fauci

Astriana Widiastuti

Putri Wening Purwanti

Rizky Aristana Maharani

Yulita Anggraeni                  

Lukisan Raden Saleh “Perkelahian dengan Singa”

Raden Saleh (Raden Saleh Syarif Boestaman) adalah pelukis terkenal dari Indonesia. Beliau seorang perintis Seni Modern Indonesia. Raden Saleh lahir pada tahun 1881 dari keluarga Tumenggung Kyai Ngabehi Kertasaba Bustaman (1681-1759). Raden Saleh merupakan pelukis gaya barat yang mengekspresikannya dengan individualis dan kreatifitas pada karya-karyanya, sehingga menjadi inspirasi bagi para seniman-seniman Indonesia untuk mengekspresikan ide-ide secara lebih bebas lukisan-lukisannya yang jelas menampilkan ekspresi ini adalah bukti Raden Saleh seorang romantic.
Ciri-ciri karya Raden Saleh :
1. Bergaya natural dan romantisme
2. Kuat dalam melukis potret dan biatang
3. Pengaruh romantisme eropa terutama dari De la croix
4. Pengamatan yang sangat baik pada binatang dan alam

 

Karya : Raden Saleh
Tahun : 1870
Media : Cat minyak diatas kanvas

Pada lukisan karya Raden Saleh yang berjudul “Perkelahian dengan Singa” itu menggambarkan perkelahian antara seorang laki-laki aljazair yang mengendarai kuda menghadapi singa di padangpasir. Tampak disana otot-otot singa dan ketakutan kuda tergambar dengan menarik. Seorang pembantunya nampak mati tersungkur. Terkaman yang kuat menyebabkan pengendara kuda jatuh dan terasa pula suasana yang dramatic dan emosional padapertarungan antaramanusia dan singa dalam lukisan tersebut. Pada pewarnaannya menggunakan warna yang gelap kelam, langit kemerahan dan tandusnya gurun, menyebabkan lukisan tersebut gagah dan elok untuk dilihat. Dan keharmonisan warna background dengan objek sangat menyatu.

Penulis : Ferdiyan (12), Sidiq(15), Rizal(21), dan Sulistiyanto (27) (XII-IPA5)
Sumber : http://www.raden-saleh.org/werksverzeichnisteil2.html

SENI RUPA MASA PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA

Masa Pendudukan Jepang di Indonesia
Tokoh utama pada masa pendudukan Jepang di Indonesia :
· S. Soedjojono
· Basuki Abdullah
· Emiria Sunassa
· Agus Djaja Suminta
· Barli S
· Afandi
· Hendra dll
Selama pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945), Jepang berusaha untuk menyenangkan hati rakyat Indonesia dengan mengizinkan berdirinya POETRA dan Keimin Bunka Shidoso.

POETRA
POETRA atau pusat tenaga rakyat adalah sebuah organisasi politik yang berdiri pada tahun 1942 oleh sekelompok pejuang Indonesia pada masa penjajahan Jepang. Tujuan utamanya adalah membentuk suatu kekuatan hebat dari masyarakat dibawah kepemimpinan Soekarno, Moh.Hatta, Ki Hajar Dewantara dan K.H Mas Mansoer. Melalui lembaga ini pula kebudayaan mengambil peran dengan mendorong semangat para seniman muda yang berbakat. Poetra memiliki beberapa departemen kebudayaan dibawah kepemimpinan S. Sudjojono dan Affandi. Misi mereka adalah mempromosikan dan mempopulerkan seni murni kepada masyarakat luas. Organisasi ini berhasil memproteksi seni dari propaganda Jepang, khususnya untuk mensukseskan militer Jepang.
Pada tahun 1942 Poetra berdiri dan mulai memamerkan hasil lukisan dari para seniman muda yang berdomisili di Jakarta. Pada tahun ini pula dipertunjukkan pameran solo dari pelukis Basuki Abdullah, Affandi, Kartono Yudokusumo dan Nyoman Ngendon. Setelah melihat hasil karya Affandi, para pengamat seni percaya bahwa seni Indonesia bergerak ke arah yang benar. Pada tahun 1943 beberapa pameran diselenggarakan dan masyarakat memiliki kesempatan untuk melihatnya. Sedangkan pada tahun 1944 pemerintah Jepang membubarkan poetra setelah mereka menyadari bahwa perkembangan poetra ternyata banyak menguntungkan bagi Indonesia.

KEIMIN BUNKA SHIDOSO
Keimin Bunka Shidoso merupakan pusat kebudayaan yang didirikan secara resmi oleh pemerintah Jepang pada tahun 1943. Keimin Bunka Shidoso terdiri dari berbagai aliran seni seperti sastra, musik, tari, drama, film, dan seni murni. Departemen seni murni dipimpin oleh Agus Djojo yang dulu menjadi salah satu pendiri PERSAGI. Unttuk kegiatan lembaga ini pihak Jepang meminta Sudjojono, Basuki Abdullah, dan Subanto untuk mengajarkan seni murni kepada para seniman baru. Seniman baru ini banyak yang datang dari luar jakarta seperti Zaini, Nashar dan Moctar Apin dari Sumatera Barat ; Trubus dan Kusnadi dari Jawa Tengah ; Henk Ngantung, Hendra Gunawan, Otto Djaja dan Dullah merupakan seniman-seniman pemula yang karyanya dipamerkan pada pameran Keimin Bunka Shidoso.
Pusat kebudayaan yang mendedikasikan untuk mempromosikan seni murni ini berhasil membentuk ikatan yang baik antara seniman dengan masyarakat.
· Program Keimin Bunka Shidoso
– Menyediakan studio gambar dan fasilitas model.
– Menyediakan ruangan untuk pameran.
– Menyediakan dana uuntuk melakukan perjalanan guna menambah wawasan pelukis.
– Memberikan hadiah bagi para pelukis yang berbakat.
– Memfasilitasi seniman jepang untuk memberikan workshop.
Pada tahun 1945 Keimin Bunka Shidoso dibubarkan bersama dengan runtuhnya pendudukan Jepang di Indonesia.

APRESIASI KARYA PELUKIS S.SUDJOJONO “PANTAI CARITA”
Karya lukisan S.Sudjojono sebagai salah satu maestro lukis Indonesia memiliki karakter goeresan ekspresif dan sedikit bertekstur, goresan dan sapuan cat diatas kanvas bagai dituang begitu saja. Pada periode sebelum kemerdekaan karya lukisan S.Sudjojono banyak bertema tentang semangat perjuangan rakyat Indonesia dalam mengusir penjajahan Belanda, namun setelah jaman kemerdekaan karya lukisan S.Sudjojono banyak bertema tentang pemandangan alam, bunga, aktifitas kehidupan maysarakat dan cerita budaya.
Salah satu karya S.Sudjojono yang terinspirasi dari keindahan alam berjudul “Pantai Carita”. Tampaknya S.Sudjojono terpesona akan keindahan Pantai Carita yang berpasir putih, keindahan dan pesona pantai carita telah menginspirasi beliau untuk menciptakan sebuah karya seni tinggi, sebuah lukisan yang menggambarkan tentang keindahan pantai carita. Nampak pada lukisan S.Sudjojono “Pantai Carita” objek-objek perahu layar, serta suasan keramaian dari para pengunjung atau wisatawan yang sedang bermain menikmati alam, hanyut dalam kegembiraan diantara riak ombak kecil yang berpadu dengan keindahaan pasir putih dan rindngnya pohon-pohon kelapa yang ada dipinggiran pantai carita tersebut.

Sumber : http://blog-senirupa.blogspot.com/2013/01/karya-lukisan-s-sudjojono-pantai-carita.html

Oleh : (Irza Brian,Nizham Robbani,Surya anggara XII IPS2)

Floating Village (Masa Indonesia Jelita)

Masa Indonesia Jelita adalah periode / masa seni rupa yang berkembang setelah masa perintis. Masa Indonesia Jelita juga sering disebut Indie Mooi. Pada masa ini banyak muncul pelukis-pelukis yang memiliki konsep yang berbeda dengan masa perintisan, yaitu melukis keindahan dan keelokan alam Indonesia. Periode ini juga bisa disebut Hindia Molek. Keadaan ini ditandai dengan datangnya para pelukis dari luar negeri.
Masa Indonesia Jelita berlangsung sekitar tahun 1920 sampai dengan tahun 1938. Gaya lukisan pada masa ini banyak menyajikan kemolekan atau keindahan alam Indonesia. Ditandai dengan hadirnya sekelompok pelukis barat, diantaranya Rudolf Bonnet, Walter Spies, arie Smite, dan R.Locatelli. Beberapa tokoh atau pelukis dari Indonesia yang mengikuti periode ini diantaranya Basoeki Abdullah, Abdullah Soeryo Subroto, Pirngadi, dan Wakidi.

 Ciri-ciri lukisan pada masa Indonesia Jelita
o Pengambilan objek alam yang indah
o Tidak mencerminkan nilai-nilai jiwa merdeka
o Kemahiran teknik melukis tidak diimbangi dengan penonjolan nilai spiritual
o Menonjolkan nada erotis dalam melukiskan manusia

Judul : Floating Village
Karya : Wakidi
Ukuran : 76 x 134 cm
Media : cat minyak di atas kanvas

Floating Village adalah salah satu karya Wakidi yang menonjol. Disini ditampilkan keindahan pemandangan alam secara nyata. Perbedaan warna gelap dan terang terlihat sangat jelas. Pewarnaannya cenderung gelap dan agak coklat kekuningan agar lukisan tersebut terkesan kusam. Selain itu untuk mencerminkan perasaan sedih serta kesan yang suram dan miris, sesuai dengan keadaan yang digambarkan didalamnya.
Digambarkan sebuah pedesaan yang dilanda banjir. Terlihat tiga rumah, jalanan yang dibanjiri air, serta beberapa perahu yang berisi orang-orang maupun barang-barang. Lukisan ini tergolong sederhana, namun dalam karya “Floating Village” ini, Wakidi mampu menggambarka aktivitas masyarakat dengan jelas.

Sumber : http://sikomoulil.wordpress.com/2012/07/28/wakidi-percikan-humanisme-dalam-kanvas-romantisme/

Oleh : Nadia Rizki N., Puput Istika W., Yuli Indra S., Ardika Riadinata
Kelas : XII IPA 1/2

“Bisikan Iblis” karya Hendra Gunawan

Periode realisme kerakyatan yogya diawali karena berpindahnya ibu kota Negara ke jogja. Para seniman pun ikut hijrah kejogja dan mendirikan sebuah organisasi “Pelukis Rakyat”. Organisasi tersebut berkembang dengan baik, karena berhubungan baik dengan pemerintahan. Hal ini karena hasil karya seniman tersebut bertemakan tentang perjuangan, sesuai dengan keadaan yang ada pada masa itu. Selain itu juga ada hasil karya yang menggambarkan tentang kritikan karena adanya ketimpangan social yang ada pada masa itu. Sehingga periode ini disebut realisme kerakyatan, ada juga yang menyebut realisme social.
Salah satu contoh hasil lukisan pada masa periode realisme kerakyatan yogya adalah karya yang Hendra Gunawan.

Judul : “Bisikan Iblis”
Ukuran : 110cm X 135cm
Media : Oil on Canvas
Lukisan karya Hendra Gunawan yang berjudul “Bisikan Iblis” tersebut menggambarkan tentang kondisi yang terjadi pada masa tersebut. Lukisan tersebut termasuk lukisan yang terbaik pada masa itu, karena memiliki nilai kehidupan yang tergandung pada masa tersebut. Lukisan tersebut menggambarkan tentang manusia yang muda dihasut oleh iblis, hewan-hewan yang ada pada gambar tersebut menggambarkan manusia yang berprilaku seperti hewan, karena hasutan iblis.

Sumber : http://blog-senirupa.blogspot.com/2013/01/karya-lukisan-hendra-gunawan.html
Nama Kelompok
Taskiyah Mufidah (XII IPS 2)
Ilham Arif M (XII IPS 3)
Rosita Chandradewi (XII IPS 3)

ACHMAD SADALI (MAZHAB BANDUNG)

Mazhab Bandung adalah sebuah aliran seni rupa yang mengarah
pada gaya melukis seniman Bandung yang mengutamakan prinsip-prinsip
formal seni, seperti bentuk, warna,garis. Mazhab Bandung ini juga merupakan
awal perkembangan seni rupa Indonesia yang saat itu masih menganut sistem
yang bersifat tradisional. Aliran ini pertama kali berkembang pada akhir tahun
1950-an, para pelukis Seni Rupa ITB melakukan penyimpangan pada cocok
Realisme. Bisa dibilang, aliran ini meniadakan unsur tradisi dan menggantinya
dengan unsur Abstrak dan Kubistik yang dibawaoleh Ries Mulder.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri Mazhab Bandung adalah
lebih mengutamakan detail bentuk, warna, dan garis. Juga bisa berbentuk
Abstrak dan Kubistik.
 Seniman Mazhab Bandung

Salah satu seniman Mazhab Bandung yang terkenal aadalah Ahmad Sadali.
Lahir : Garut, 29 Juli 1924
Wafat : Garut, 19 September 1987
Ahmad Sadali bisa di bilang seorang pelukis yang menyatakan 2 unsur, yaitu seni dan kereligiusan. Beliau awal nya belajar di ITB dan mendapat beasiswa sehingga meneruskan kuliahnya ke Iowa State University dan New York Art Student League. Ahmad Sadali lalu kembali ke Indonesia sehingga menyebarkan aliran abstrak, dan pada akhirnya beliau di beri gelar sebagai Bapak Seni Lukis Abstrak Indonesia.

 Karya Ahmad Sadali “Gunungan Emas”


Karya ini dibuat pada 1980 ini merupakan perwujudan dari penggabungan 2 unsur, yaitu seni dan kereligiusan. Adanya tanda segitiga, konstruksi piramida memberikan simbol tentang religiusitas. Segitiga melambangkan hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam, juga terdapat guratan-guratan kaligrafi Al-Quran yang dilelehi oleh emas. Sehingga muncullah nilai religius, misteri dan ketidakabadian (fana). Memang,Ahmad Sadali adalah seorang seniman yang sangat religius. Menurut Sadali, daerah seni adalah daerah zikir. Makin canggih kemampuan zikir manusia, makin peka mata batinnya. Karya Ahmad Sadali ini bisa dibilang termasuk dalam aliran Bandung, karena terdapat motif garis (berupa segitiga) juga terdapat abstrak yang merupakan ciri utama Mazhab Bandung. Dalam lukisan ini, dapat dilihat bagaimana Sadali melakukan zikir, mencurahkan kepekaan mata batinnya dalam elemen visual (bentuk-bentuk yang bisa dilihat).
Media yang digunakan “Gunungan Emas ( The Golden Mountain)” 1980 diantaranya:
Cat Minyak
Kanvas 80×80 cm

Sumber : http://archive.ivaa-online.org/artworks/detail/4809
http://pesantrenbudaya.blogspot.com/2011/11/ahmad-sadali-pelukis-mubaligh-aktivis.html

Nama Anggota kelompok:
1. Al Wandra Fathan (XII IPA 5 / 02)
2. Nofiani Krusitasari (XII IPA 5 / 17)
3. Marinda Dwi Fatimah (XII IPA 5 / 33)
4. Chandra Maleo (XII IPS 1 / 12)
5. Lovenda Yuria Linggasari (XII IPS 1 / 23)
Telah di edit oleh Admin tgl. 18 September 2013

Aliran Naturalisme Basuki Abdullah

Senirupa mengalami perkembangan disetiap masa pergantian waktu baik dalam jenis media ,teknik yang digunakan serta aliran. Di era modern ini berkembang berbagai aliran seni yang tergolong dalam klasifikasi senirupa modern / kontenporer yaitu Realisme,Naturalisme,Romantisme,Impresionisme,Ekspresionisme,pop art, surealisme abstrakisme dll. Dalam pembahasan ini akan membahas salah satu dari aliran seni yaitu aliran naturalisme salah satu tokoh penganutnya serta karyanya.
Aliran naturalism dapat diartikan sebagai jenis aliran yang memiliki dasar ciri karya yang melukiskan segala sesuatu sesuai dengan nature atau alam nyata, artinya disesuaikan dengan tangkapan mata kita namun mengutamakan keindahan objeknya. Hal ini merupakan pendalaman labih lanjut dari gerakan realisme pada abad 19 sebagai reaksi atas kemapanan romantisme. Sehingga terkadang aliran naturalism dianggap memiliki kesamaan dengan aliran realism namun pada dasarnya aliran realism lebih menekankan bukan pada obyek tetapi suasana dari kenyataan tersebut. Penganut naturalisme berpendapat bahwa satu-satunya dunia yang dapat dipercaya secara empiris ialah dunia eksitensi yang bersifat alami. Makna naturalisme secara khusus ada dua hal yaitu :
1. Hasil berlakunya hukum alam secara fisik. Misalnya, gerhana matahari merupakan
gejala alami/ terjadi akibat hukum gearakan benda angkasa.

2. Terjadi menurut kodrat dan wataknya sendiri. Misalnya, orang mengatakan: “Secara
alami, wajar jika ia berbuat demikian. Dalam seni rupa aliran naturalisme menganut suatu faham yang memuja kebesaran alam oleh karena itu bagi kaum naturalis tidak mungkinlah untuk melukiskan bagian alam ini yang jelek-jelek. Lukisan naturalistik selalu menggambarkan keindahan alam sehingga natularisme memiliki sifat idealistic.

Cirri dari aliran naturalism yakni :
1. Bertemakan keindahan alam serta isinya.
2. Memiliki teknik gradasi warna. Diartikan bahwa dalam aliran naturalism menonjolkan penggunaan sebuah warna yang tersusun dari warna yang lebih tua sampai ke yang lebih muda. Atau dari yang gelap hingga terang.
3. Memperhatikan keaslian alam seperti memperhitungkan posisi datangnya sinar dll.
4. Memiliki susunan, perbandingan, perspektif, tekstur, pewarnaan serta gelap terang dikerjakan seteliti mungkin dan setepat – setepanya.
5. Dll

Diindonesia cukup banyak seniman yang menganut aliran naturalism, beberapa seniman naturalis terkenal yaitu Raden Saleh, Abdullah Sudrio Subroto, Basuki Abdullah, Gambir Anom dan Trubus.
Salah satu karya naturalis terkenal, Basuki abdullah yaitu :

Pelukis: Basuki Abdullah
Judul : ” Sang Proklamator kemerdekaan ”
Ukuran : 48cm X 58cm
Media : Oil on Canvas
Tahun Karya: 1962
Dalam lukisan ini sang pelukis,Basauki Abdullah menggambarkan sebuah figure penuh wibawa dari seorang proklamator kemerdekaan RI Melukiskan figur sang proklamator kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus , Presiden RI pertama. Beliau juga merupakan seorang bangsawan, seorang tokoh pemimpin legendaris yaitu ” Ir. Soekarno” yang dilukiskan dengan accsoris berupa kacamata hitam dengan posisi close up menghadap kesamping, perspektif lukisan dari bawah, yang mampu menonjolkan aura seorang negarawan. seolah sang pelukis ingin menyampaikan makna akan kesederhanaan jiwa yang rendah hati dari sosok sang proklamator.

Sumber :
http://lelang-lukisanmaestro.blogspot.com/
http://shamagachi415.blogspot.com/2012/08/apresiasi-dan-aliran-seni_3.html
http://desxripsi.blogspot.com/2012/07/aliran-aliran-seni-rupa-tokoh-dan.html#axzz37AWtHkoj

oleh :
Nia Aninditya Zagita
xi ips 2

GERAKAN SENI RUPA BARU DI INDONESIA

Pada kali ini kita akan membahas mengenai gerakan seni rupa baru di Indonesia. Gerakan seni rupa baru di Indonesia didirikan oleh beberapa tokoh diantaranya Ris Purnomo, S. Prinka, Anyool Soebroto, Satyagraha, Nyoman Nuarta, Pandu Sudewo, Dede Eri Supriya, Jim Supangkat, Siti Adiyati Subangun, F.X Harsono, Nanik Mirna, Hardi, Wagiono. S, Agus Tjahjono, B. Munni Ardhi dan Bachtiar Zainoel. Mereka membentuk gerakan seni rupa baru di Indonesia Sebagai sebuah usaha dari sekelompok akademisi atau mahasiswa seni rupa yang menentang monopoli seni oleh sekelompok seniman saja. Monopoli di sini adalah terlalu kuatnya pengaruh modern dari seniman senior mereka yang sekaligus menjadi pengajar mereka di kampus, yang dalam beberapa hal mengekang kemungkinan akan bentuk – bentuk baru dari kesenian itu sendiri. Hal tersebut mereka wujudkan dalam bentuk pameran bertajuk “ Pasaraya Dunia Fantasi “ di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 2 hingga 7 agustus 1975, tepat delapan bulan setelah peristiwa Desember hitam. Adapun beberapa pendapat yang mengatakan bahwa peristiwa desember hitam adalah awal dari Gerakan Seni Rupa Baru itu sendiri. 4 tahun kemudian Gerakan Seni Rupa baru mendeklarasikan manifesto Gerakan Seni Rupa Baru atau yang biasa disingkat menjadi GSRB adalah salah satu penanda dari awal mula kelahiran dari seni rupa kontemporer di Indonesia.
Teman- teman GSRB juga bias dimaknai sebagai penanda dari gelombang perkembangan seni rupa pada tahun 1974-1977 yang memasuki daerah pijak baru yaitu perubahan manifestasi secara fisik dan konsep secara besar – besaran. Bahkan ada sebagian pendapat yang menganggap bahwa GSRB menghasilkan denyut yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok seni rupa pendahulunya yaitu Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) yang digawangi oleh Agus Djajadan S. Sudjojono. Karena GSRB menyodorkan permasalahan yang lebih kompleks melalui menifestonya dibandingkan dengan apa yang di sodorkanoleh PERSAGI. Manifesto GSRB bertujuan untuk menegaskan dengan tujuan meruntuhkan definisi seni rupa yang terkungkung kepada seni lukis, seni patung dan seni grafis. Keyakinannya: estetika seni rupa merupakan gejala jamak.
Berikut ini adalah salah satu karyaseni pada periode gerakan seni rupa baru di Indonesia karya maryono setyawan

SILAHKAN KLIK LINK DISINI

(Editor : annies, arvita, iga, miya, senja) / XII IA 4