SEJARAH TERCIPTANYA REYOG PONOROGO

IMG_2661

Versi Ki Ageng Ketut Suryongalam (Ki Ageng Kutu)

Versi ini merupakan versi asli Reyog Ponorogo yang menceritakan tentang seorang demang yang bernama Suryongalam yang merupakan pejabat  kerajaan Majapahit pada masa Bhre Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15.Beliau menyindir rajanya yang pada saat itu lebih banyak dikendalikan oleh permaisurinya sehingga di gambarkan singo barong yang merupakan perlambang seorang raja yang di tunggangi oleh merak yang lembut sebagai perlambang permaisuri.

Ki Ageng Kutu membelot terhadap kerajaan Majapahit, ia pun melihat bahwa kekuasaan kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni beladiri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak.

Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reyog, yang merupakan “sindiran” kepada Raja Bhre Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reyog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan pertunjukan Reyog.

Di dalam padepokan tersebut, Ki Ageng Kutu merenung dan berfikir, bagaimana strategi untuk melawan Majapahit yang dianggapnya meyimpang. Dalam perenungannya muncul pendapat bahwa peperangan bukanlah cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah, sehingga diciptakanlah sebuah perlawanan secara psikologis dengan membuat kritikan lewat media kesenian. Sebuah drama tari yang menggambarkan keadaan kerajaan Majapahit, dan oleh Ki Ageng Kutu disebut REYOG.

Ki Ageng Kutu sebagai tokoh warok yang dikelilingi oleh para murid – muridnya menggambarkan fungsi dan peranan sesepuh masih tetap diperlukan dan harus diperhatikan.
Pelaku dalam Drama tari tersebut adalah Singo Barong yang mengenakan bulu merak di atas kepalanya menunjukkan kecongkakan atau kesombongan sang Raja, yang terpengaruh kecantikan permaisurinya dalam menentukan kebijakan kerajaan.

Penari kuda atau Jathilan yang diperankan oleh seorang laki – laki yang lemah gemulai dan berdandan seperti wanita menggambarkan hilangnya sifat keprajuritan kerajaan Majapahit. Tarian penunggang kuda yang aneh menggambarkan ketidakjelasan peranan prajurit kerajaan, ketidak disiplinan prajurit terhadap rajanya, namun raja berusaha mengembalikan kewibawaannya kepada rakyat yang digambarkan dengan penari kuda (Jathilan) berputar – putarnya mengelilingi Sang Raja.

Seorang pujangga kerajaan digambarkan oleh Bujang Ganong yang memiliki wajah berwarna merah, mata melotot dan berhidung panjang menggambarkan orang bijaksana, bernalar panjang tetapi tidak digubris oleh Raja sehingga harus menyingkir dari kerajaan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s