Mengenal Agus Djaja Suminta

Teman-teman kali ini kami akan membahas tentang organisasi yang ada pada masa Persagi. Banyak tokoh yang muncul saat itu salah satunya adalah Agus Djaya. Tokoh yang satu ini lahir di Pandeglang, Banten tanggal 1 April 1913 dengan nama aslinya Raden Agus Djaya Suminta, Beliau merupakan pendiri Persagi (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia), yang juga ketua selama empat tahun pada 1938 – 1942.
Semasa kecilnya, saudara kandung, R. Otto Djaya yang juga terkenal sebagai pelukis besar Indonesia ini pernah berkeinginan menjadi dokter dengan alasan banyak anggota keluarga yang menjabat profesi tersebut, namun karena bakat seni yang kuat dari ibunya ditambah pengarahan dari guru gambarnya semasa sekolah di H.I.S. Pandeglang, Suwanda Mihardja, membuat Agus Djaja menjadi seorang pelukis. Setelah lulus HIS Agus Djaja melanjutkan sekolah ke MULO, Bandung pada tahun 1923, kemudian ke Middelbare Landbouw School, Bogor (1923-1924), dan diteruskan ke H.I.K. Lembang,Bandung tahun 1927.
Selama di Eropa, Agus Djaya juga berkenalan dengan pelukis-pelukis besar Eropa seperti Pablo Picaso di Vallauris, Perancis Selatan. Juga bersahabat dengan perupa dunia Salvador Dali di Madrid, Spanyol. Termasuk dengan pematung Paris asal Polandia, Ossip Zadkine.
Setelah memiliki kesempatan yang luar biasa di luar negri, akhirnya ia kembali juga ke Tanah Air. Selama di tanah air, prestasi beliau makin tenggelam dengan dunia seni rupa, hingga suatu ketika ia memutuskan meninggalkan Ibukota, hijrah ke Kuta, Bali. Di sanalah ia mendirikan studio sekaligus galeri impian di tepi Pantai Kuta.

sumber foto : http://blog-senirupa.blogspot.com/2012/12/karya-lukisan-agus-djaya-suminta.html

Banyak karya yang ia hasilkan pula, salah satunya adalah lukisan yang berjudul Srilanka Lady Standing. Dari lukisan ini, Agus Djaja ingin menggambarkan ciri khas dari wanita Srilanka. Diatas kanvas ukuran 111,5 x 146 cm dengan cat air, beliau menggambarkan gadis itu dengan berpakaian kain berwarna kuning yang panjang lalu berselubungkan kain merah ditangannya serta terdapat aksesories gelang yang banyak pada tangan kanan gadis itu, terlihat bahwa Agus Djaja memang memiliki kemampuan untuk menggambarkan ciri khas dari seseorang. Wajahnya pun juga dilukis dengan penuh kemiripan orang Srilanka. Terdapat pula tanda seperti titik merah di dahi yang dipakai wanita Srilanka pada umumnya, tak lupa Agus Djaja juga memberi warna kulit sawo matang karena Srilanka juga merupakan negara yang warna kulit penduduk aslinya adalah coklat/sawo matang.
Nah teman-teman, sekilas penjelas dari kami. Selamat membaca dan untuk kritik dan sarannya ditunggu lho..
Oleh: Clarisa Tara, Deliyanda, Destika Agustina, Haerani Rahima

Iklan

6 comments on “Mengenal Agus Djaja Suminta

  1. apa sajakah faktor-faktor yang menyebabkan prestasi beliau makin tenggelam dengan dunia seni rupa? kenapa hal tersebut terjadi, padahal beliau memiliki kesempatan yang luar biasa di luar negri. adakah peristiwa yang terjadi dibalik itu semua?

    Suka

  2. Hal itu bisa terjadi karena untuk mencari jejak seni rupa pada karya-karya Agus Djaja dan tidaklah gampang. Bahkah untuk melihat pengaruh karya-karya Agus Djaja pada karya perupa Banten sekarang tidak akan kita temukan. Agus Djaja dan Otto Djaja tidak meninggalkan jejak seni rupa di Banten, yang membuat Agus Djaja dan Otto Djaja tak begitu akrab dengan generasi perupa Banten masa kini.
    Kurangnya galeri bahkan tidak adanya galeri di Banten membuat kegiatan seni rupa Banten sepi dan tak ada gaungnya di luar. Meskipun pernah ada beberapa kali pameran seni rupa di Tangerang dan Banten. Tapi itu belum membuat angin segar bagi seni rupa Banten. Karena tak adanya kerja sama dengan beberapa lembaga tertentu dan media, baik media massa maupun elektronik dengan baik. Juga karena kurangnya galeri di Tangerang yang membuat agenda acara pameran seni rupa baik di Tangerang maupun di Banten kurang direspon.

    Suka

  3. hal ini juga dikarenakan kurangnya perhatian pemerintah pada waktu itu untuk menghargai karya-karya anak bangsa yang sangat luar biasa ini. karena pada saat itu Indonesia sedang dalam kondisi yang labil sekitar masa kemerdekaan.
    oleh karenanya tidak banyak perhatian yang dicurahkan pada apresiasi terhadap seni lukis oleh agus djaja, namun hal yang sama juga di alami oleh pelukis lainnya.

    Suka

  4. oyaya.. jd memang memerlukan perjuangan yang tak mudah ya untuk menuangkan segala apresiasi seni rupa pada masa itu.. butuh pengorbanan yang lebih untuk konsisten pada pendirian bila faktor eksternal juga tidak mendukung.. sungguh sangat tangguh tokoh2 seni rupa pada saat itu.
    belajar dari tokoh tersebut dan perupa yang lainnya jg, mari anak2 seni rupa khususnya seni rupa smasa SEMANGAT jangan mudah putus asa!!! 😉

    Suka

  5. Suami saya cucu dr Beliau..di rumah kami banyak lukisan Beliau..untung masih ada yg bisa disimpan utk kenang-kenangan kepada anak cucu…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s