“Tugu Batu Stella Hammurabi”

 

Kali ini kami akan membahas tentang seni rupa purba Babylonia khususnya tugu Stella Hammurabi.


Hammurabi merupakan raja Babylonia ke 6 yang memiliki kekuasaan mutlak akan wilayah Babylonia yang subur,beliau adalah raja yang disiplin , sangat tegas ia ingin segala sesuatu berjalan dengan tertib dan teratur, dan semua orang menaati peraturannya, dengan dibuatnya hukum Hammurabi ia bermaksud untuk mempersatukan suku bangsa yang berbeda di Babylonia (sekitar tahun 1792 sampai 1750 SM), dalam tugu tersebut menggambarkan raja hammburabi yang sedang menerima undang-undang dari Dewa Shamash atau dewa Matahari yang juga menjadi dewa pelindung keadilan. Sebelum ada hukum tertulis, titah rajalah yang berlaku sebagai hukum, sehingga tidak ada standar yang sama dan mengikat untuk seluruh rakyat.

 

 

 

 

Ternyata relief yang memiliki panjang 8 kaki yang diukir di batu besar berupa tugu ini berisikan 282 hukum bersifat spesifik, dan selalu disertai dengan sanksi yang berat dengan tujuan agar tidak ada yang melakukan pelangaran. Tidak sia-sia perbuatan raja Hammurabi dan para khasim pilihannya dengan merancang hukum tertulis yang tertancap di tengah tengah ibu kota Babylonia,pada masa itu hinga 12 abad kemudian hukum itu sangat efektif,mengenal perilaku masyarakat yang masih bersifat keras,kejam,dan terkadang tidak manusiawi tersebut, namun karena kesalahan pemahaman bahasa yaitu bahasa Akadian yang di ukirkan pada tugu tersebut tidak dipahami oleh masyarakat dalam wilayah – wilayah yang memiliki bahasa dan budaya yang berbeda mengakibatkan kekacauan hingga kerugian nyawa.

 

 

 

 


Dapat disimpulkan bahwa hukum tertulis ini sangat keras dan kejam namun dapat membuat dampak yang besar bagi kerajaan Babylonia . Dampak lain yang berlaku hingga sekarang yaitu terbukti dengan adanya hukum tertulis pada era modern ini yang ternyata berasal dari hukum tertulis Hammurabi Babylonia.

 

 

 

 

 

 

 


Nama : Stella Hammburabi
Masa Pemerintahan : Raja Hammburabi
Wilayah : Kerajaan Babylonia
Tahun Pembuatan : ± 2000 th SM
Tahun Penemuan : 1901 di Susa
Ukuran : Tinggi 2 M, lebar 70 cm

Sumber : Buku ips sejarah SLTP kelas 1, Modul Seni Rupa SMA 2 Semester 2 Penerbit Hayati Tumbuh Subur, Wikepedia, Apresiasi Seni Rupa Mancanegara, Atlas Sejrah Indonesia dan Dunia.
Penulis : Ghebby P.N.P, Desita R D, Nia A.Z, Andhika R.B,Y.Cindy from XI ips 2

Iklan

8 comments on ““Tugu Batu Stella Hammurabi”

  1. Trimakasi prtanyaan.a
    Contoh.a pembohong akan d potong lidahnya,biarawati akan d bakar hidup” jka mmasuki pnginapan tanpa ijin ,dokter bdah akan khilangan sbelah tngan.a jka pasien mningal dlm pnanganan.a.
    Dll.

    Suka

  2. Selain praturan yg brjumlah 282 yg dpahatkn d lempengan batu htam dngan tinggi 2m Keistimewaan.a trletak pada pngaruh yg d timbul.an dari adanya tugu batu tsb yg menyebabkan masyarakat d masa it patuh n taat.
    Trimakasi prtanyaan.a .

    Suka

  3. kesalahan pemahaman bahasa yaitu bahasa Akadian yang di ukirkan pada tugu tersebut tidak dipahami oleh masyarakat dalam wilayah – wilayah yang memiliki bahasa dan budaya yang berbeda mengakibatkan kekacauan hingga kerugian nyawa, itu maksudnya gimana ?

    Suka

  4. contohnya Suatu ketika, tiga orang utusan membawa batu prasasti bertuliskan hukum Hammurabi ke daerah Hinterland. Mereka melintasi gurun yang sangat luas dan panas tak terkira selama berhari-hari. Ketika akhirnya tiba di sebuah oase, mereka yang sudah sangat kehausan itu ingin minum. Namun, mereka kebingungan ketika membaca aturan nomor 214 yang berbunyi : “Barang siapa yang ingin minum pada saat ia sedang bepergian harus segera mengikat keledainya pada sebatang pohon dengan aman”.
    Peraturan ini sesungguhnya dimaksudkan untuk melindungi keledai dari perlakuan pemiliknya yang sewenang-wenang Celakanya, para pembawa prasasti ini berasal dari Hinterlands, dan pada aturan itu keledai disebut dengan istilah “ass”, sementara dalam bahasa Hinterlands, “ass” berarti pantat. Lagipula, orang-orang tersebut tidak membawa keledai, melainkan onta. Maka, mereka mengikatkan pantat mereka ke pohon, dan meregangkan tubuh mereka untuk mencapai tepian danau di oase tersebut agar bisa minum. Namun karena jarak pohon tersebut terlalu jauh, maka mereka tak pernah berhasil mencapai tepian danau, dan akhirnya tewas.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s