LUKISAN PENANGKAPAN PANGERAN DIPONEGORO

Raden saleh adalah putra seorang bangsawan. Pada umur 10 tahun (1817) raden saleh diserahkan oleh pamannya ke belanda untuk di jadikan sebagai pegawai. Pada tahun 1826, dia mendapat pelajaran melukis dari A.A.J. Payen, pelukis dari belgia. Payen meminta izin kepada Jendral V. Der Capelen untuk meneruskan pelajaran di belanda. Kemudian raden saleh berguru pada Andrean Schelf Vernet (pelukis pemandangan) dan Cornelius Krusemen.
Pada tahun 1839 raden saleh diberi kesempatan untuk berkililing eropa selama 13 tahun. Dia berkeliling ke jerman, perancis, italia, bahkan sempat ke aljazair. Sehingga total dia tinggal di eropa. Di eropa dia mempelajari lukisan lanskap pada kanvas menggunakan cat minyak dan lukisan potret. Raden salelh tinggal di kota Dresden (Jerman) selama 5 tahun dan lukisannya banyak di sukai oleh orang-orang di sana dan diapun dikenal sebagai pelukis potret yang handal. Setelah 10 tahun berkelana di eropa, raden saleh kembali ke Indonesia bersama istrinya Ny. Winkelman pada tahun1951.

Pada lukisan penangkapan pangeran diponegoro, dengan jelas figur pangeran deponegoro dalam sikap menantang jendral Jendral De kock. pangeran deponegoro menatap jendral tersebut dengan lantang sementara jendral dan semua pembesar pasukan belanda tersebut menatap pangeran deponegoro dengan pandangan yang kosong. Dalam lukisan itu ukuran kepala pasukan belanda dibuat lebih besar sehingga mirip boneka.Raden saleh menggambar kepala pasukan belanda terlalu besar karena raden saleh menilai pasukan belanda tidak menggunakan akalnya secara benar dengan masyarakat hindia belanda terutama pada pangeran de ponogoro. Belanda dianggap menipu dalam acara gencatan bersenjata tersebut.

Editor : Agistya Dwi Cahyoko, Alfan Tafaruk, Alfiza D S, Yanuar Dwiky A XII IPA 5

Iklan

21 comments on “LUKISAN PENANGKAPAN PANGERAN DIPONEGORO

    • -Bergaya Natural dan Romantisme
      -Kuat dalam melukis binatang
      -Pengaruh romantisme Eropa
      -Pengamatan yang sangat baik terhadap alam dan binatang.

      Suka

    • Seni lukis potret yang dimaksudkan adalah berkenaan juga dengan lukisan yang menggambarkan fenomena kebudayaan, kegiatan masyarakat, dan sekelompok orang dalam konteks kebudayaannya.
      Bisa di mengerti??

      Suka

    • ya begitulah…. kurang lebihnya, dalam apresiasi dibutuhkan pemahaman tentang unsur dan prinsip seni rupa, agar lebih mudah dalam pemahaman secara fisik, namun untuk pemahaman secara psikis perlu pengalaman batin bagi apresiator.

      Suka

    • sama seperti mengapresiasi lukisan Naturalis/romantis yang lain untuk garis bayak di dominasi garis imajiner dan bukan garis linear, bentuknya meniru bentuk/proporsi tubuh manusia dengan mendistorsi beberapa obyek dengan memakai logika terbalik, yaitu proporsi tubuh tentara belanda lebih kecil dari tentara pangeran diponegoro (ini pun memiliki makna tersendiri), warna yang di gunakan adalah warna warna yang cenderung terkesan lembut dengan di dominasi warna coklat klasik/romantis perpaduan warna biru/merah. Untuk pencahayaan lebih menitikberatkan pada fokus obyek yaitu pangeran Diponegoro dan menggelapkan obyek antagonisnya yaitu Jendral De Kock (ini pun juga dengan maksud dan tujuan tertentu.
      Mungkin sedikit penjelasan ini bisa membantu, untuk penjelasan lebih lengkapnya silahkan lewat e-mail bambang_madiun@yahoo.com

      Suka

  1. raden saleh itu menganut aliran realistis,mksud dari aliran itu adlh menggambarkan kehidupan yang tdk dilebih lebihkan,bukan menganut aliran romantisme

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s