“Bisikan Iblis” karya Hendra Gunawan

Periode realisme kerakyatan yogya diawali karena berpindahnya ibu kota Negara ke jogja. Para seniman pun ikut hijrah kejogja dan mendirikan sebuah organisasi “Pelukis Rakyat”. Organisasi tersebut berkembang dengan baik, karena berhubungan baik dengan pemerintahan. Hal ini karena hasil karya seniman tersebut bertemakan tentang perjuangan, sesuai dengan keadaan yang ada pada masa itu. Selain itu juga ada hasil karya yang menggambarkan tentang kritikan karena adanya ketimpangan social yang ada pada masa itu. Sehingga periode ini disebut realisme kerakyatan, ada juga yang menyebut realisme social.
Salah satu contoh hasil lukisan pada masa periode realisme kerakyatan yogya adalah karya yang Hendra Gunawan.

Judul : “Bisikan Iblis”
Ukuran : 110cm X 135cm
Media : Oil on Canvas
Lukisan karya Hendra Gunawan yang berjudul “Bisikan Iblis” tersebut menggambarkan tentang kondisi yang terjadi pada masa tersebut. Lukisan tersebut termasuk lukisan yang terbaik pada masa itu, karena memiliki nilai kehidupan yang tergandung pada masa tersebut. Lukisan tersebut menggambarkan tentang manusia yang muda dihasut oleh iblis, hewan-hewan yang ada pada gambar tersebut menggambarkan manusia yang berprilaku seperti hewan, karena hasutan iblis.

Sumber : http://blog-senirupa.blogspot.com/2013/01/karya-lukisan-hendra-gunawan.html
Nama Kelompok
Taskiyah Mufidah (XII IPS 2)
Ilham Arif M (XII IPS 3)
Rosita Chandradewi (XII IPS 3)

IMG_8782

KORUPSI BUKAN BUDAYA

Menyikapi seringnya pejabat di negara kita yang tersandung masalah korupsi dan maraknya isu korupsi di sekitar kita, siswa SMA NEGERI 1 MADIUN berusaha mengingatkan kepada seluruh warga SMASA untuk kembali berpikir ulang untuk melakukan tindakan yang sangat merugikan tersebut. Korupsi harus dihapus dari negara indonesia….. begitulah semangat yang di teriakkan oleh siswa kelas XII IPA 3. Janganlah menjadikan Korupsi sebagai budaya dengan berslogan “HAPUS BUDAYA KORUPSI” atau “HILANGKAN BUDAYA KORUPSI DARI BUMI INDONESIA” serta slogan slogan yang lain yang salah kaprah…. korupsi bukanlah budaya, bagaimana korupsi bisa hilang jika yang meneriakkan slogan anti korupsi saja menganggap bahwa korupsi itu budaya????….. Budaya Indonesia tidak akan pernah hilang dan harus dilestarikan. dengan menganggap Korupsi sebagai budaya, kami yakin hal ini tidak akan pernah bisa hilang dari negara kita. Kami memiliki cara lain untuk menyampaikan gerakan anti korupsi tersebut yaitu dengan karya seni instalasi.. Berikut ini karya buatan kami silahkan diapresiasi dan dapat menjadikan peringatan bagi kita di hari anti korupsi 9 desember 2012.

IMG_8772[1]

IMG_8775[1]

IMG_8776[1]

IMG_8777[1]

IMG_8778[1]

IMG_8780[1]

IMG_8782

LAHIRNYA ORGANISASI PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia)

Dalam kesempatan kali ini,kami akan membahas tentang lahirnya salah satu organisasi seni rupa Indonesia yaitu PERSAGI atau singkatan dari nama organisasi Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia yang lahir 23 Oktober 1938 di salah satu gedung sekolah dasar di daerah Jakarta di Gang Kaji. Organisasi ini petama kali diketuai oleh Agus Djaya Suminta dan sekretarisnya S. Sudjojono, dengan anggota antara lain: Ramli, Abdulsalam, Otto Djaya, S. Tutur, Emira Soenassa, L. Setijoso, S. Sudiardjo, Saptarita Latif, H. Hutagalung, Sindusisworo, TB. Ateng Rusyian, Syuaib Sastradiwilja, Sukirno dan Suromo. Berdirinya PERSAGI mempunyai tujuan agar para seniman lukis Indonesia dapat menciptakan karya seni yang kreatif dan berkepribadan Indonesia. Tujuan tersebut berlandaskan pada misi untuk mencari sintesis dari lukisan tradisional dan modern, serta mengembangkan gaya mereka sendiri yang bercirikan ke-Indonesia-an.
Dalam kesempatan ini juga,kami mengambil salah satu contoh gambar dari S.Sudjojono yaitu Ketoprak.
Berikut gambar yang kami peroleh.

Lukisan ini berjudul ketoprak,dibuat oleh Sudjojono pada tahun 1969.Sudjojono melukis karya ini di atas media Oil on Canvas berukuran 60 cm x 80 cm. Komposisi warna dan juga tingkat kecerahannya benar benar menampilkan suatu suasana yang bisa di bilang bagus.Selain itu gambar dan warna pada orang orang dilukisan juga sudah bisa membuat orang yang melihat merasa kagum akan keindahannya. Selain itu masih banyak lagi karya sudjojono yang bertemakan keindahan alam dan juga aktivitas manusia.

Penulis : Rudy, Fajar Abi, Ghanu

SEKILAS TENTANG SENIMAN MAZAB BANDUNG

Mochtar Apin


Senirupawan pada Mazhab Bandung ini, lahir di Bukit Tinggi, Padang Panjang, Sumatera Barat pada 23 Desember 1923 dan meninggal di Bandung, 1 Januari 1994. Senirupawan ini adalah seorang putera yang meraih gelar sarjana sastra di Universitas Indonesia di Jakarta. Bakatnya adalah membaca puisi serta menulis, sedangkan melukis menjadi hobinya saat ia masih sekolah (1939-1940). Lulus Seni Rupa ITB, Bandung (1951), Seni Rupa dan Kria, Amsterdam (1952), Ecole Nationale Superieure des Beaux Art, Paris (1957), dan Deutsche Akademie der Kunste, Berlin (Jerman) tahun 1958. Salah seorang pendiri organisasi budaya Gelanggang. Sejak tahun 1950 sampai akhir hayatnya, aktif mengikuti pameran bersama ataupun tunggal

MOCHTAR APIN
PETAK-PETAK BIDANG HIJAU DI ATAS UNGU
1975 ACRYLIC ON CANVAS 100X130 Cm

Gregorius Sidharta

Gregorius Sidharta Soegijo lahir di Yogyakarta, pada 30 November 1932 dan meninggal di Surakarta, Jawa Tengah, 4 Oktober 2006 pada umur 73 tahun. Beliau adalah seorang pematung terkenal Indonesia. Ia juga dianggap sebagai tokoh pembaruan seni patung Indonesia.
Sidharta dilahirkan sebagai anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Ia mulai belajar melukis di Sanggar Pelukis Rakyat, Yogyakarta, yang kemudian dilanjutkannya di Akademi Seni Rupa Indonesia juga di Yogyakarta. Sebelum beralih ke seni patung, ia sempat mempelajari dasar-dasar melukis dari tokoh-tokoh pelukis seperti Hendra Gunawan dan Trubus pada tahun 1950-an. Pada tahun 1953 ia dikirim belajar di Jan van Eyck Academie di Maastricht, Belanda selama tiga tahun oleh misi Gereja Katolik.
Gregorius Sidharta pernah mendapatkan berbagai penghargaan atas karya-karyanya, antara lain:
• Anugerah Seni dari Badan Musjawarah Kebudajaan Nasional (1952)
• Anugerah Seni DKI Jakarta tahun (1982)
• Penghargaan Patung Terbaik dari Dewan Kesenian Jakarta (1986)
• Penghargaan ASEAN ke-2 untuk Kebudayaan, Komunikasi dan Karya Sastra (1990)
• Penghargaan Rencana Monumen Proklamator di Jakarta

G. SIDHARTA
TANGISAN DEWI BETARI
THE WEEPING GODDES
1978

SUNARYO

Bisa dibilang seniman kelahiran Banyumas (Jawa Tengah), 15 Mei 1943 ini merupakan salah satu legenda Indonesia. Lebih dari itu, alumnus Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) ini termasuk seniman grafis yang telah diakui secara internasional. Pengakuan itu dibuktikan dengan diraihnya pulhan penghargaan seni, termasuk yang berkelas internasional.
Tahun 1978 ia memenangkan hadiah ke-2 Graphic Competition yang diadakan UNESCO di Paris. Sebelas tahun kemudian, 5 karya grafisnya dimuat dalam buku Contemporary Prints of The World. Dalam buku itu, nama Sunaryo disejajarkan dengan seniman-seniman besar grafis kelas dunia seperti Joan Miro, Paul Klee, dan George Braque. Iapun telah memenangkan sedikitnya 5 kali penghargaan dari The Philip Morris Award sejak tahun 1994.
Tidak hanya berkarya di bidang grafis, Sunaryopun menjelajahi seni patung, lukis, keramik, tekstil, hingga instalasi. Kini, penggemar gudeg ini sibuk mengembangkan Selasar Sunaryo Art Space yang didirikannya di Desa Mekarwangi, Bandung Utara. Tak hanya tempatnya berkarya, Sunaryo melengkapi Selasar ini dengan studio dan tempat tinggal bagi para seniman dari dalam maupun luar negeri. Di sini, para senimanpun bisa berkumpul dan berdiskusi. Ia juga memiliki Selasar lain di kawasan Bukit Pakar Timur, tak jauh dari tempat tinggalnya.
Sebagai pribadi, Sunaryo Sutono, demikian nama lengkapnya, dikenal rendah hati sehingga disukai kalangan seniman maupun industri. Meski demikian, ia dikenal sebagai seniman yang keukeuh mempertahankan idealisme. Dari pernikahannya dengan Heti Komalasari, Sunaryo dikaruniai 3 putra-putri: Hardianto, Arin Dwihartanto, dan Harmita.

PATUNG GALAU RESTLEES
SUNARYO
FIBERGLASS, BESI, KAIN HITAM
135,1x142x65 cm.

Diambil dari berbagai sumber oleh : DICHA INDRIASTHI, DIYAH PUTRI C. FINA FRANSISKA, FATTRIA MADILLA M.T. XII IPA 3

LAHIRNYA ORGANISASI SENI RUPA INDONESIA

Lahirnya organisasi seni rupa Indonesia dimulai dengan lahirnya PERSAGI (Persatuan Ahli – Ahli Gambar Indonesia) pada masa cita nasional yang dilatarbelakangi terjadinya pergolakan di Bangsa Indonesia dalam segala bidang salah satunya bidang kesenian. Tokoh kesenian masa itu adalah S.Sudjodjono yang berusaha mendapatkan hak yang sejajar dengan bangsa lain. Beliau merasa tidak puas dengan kehidupan seni rupa masa Indonesia jelita yang serba indah karena bertolak belakang dengan kenyataan kondisi Indonesia pada masa itu. Karena itu S.Sudjodjono dan Agus Jayasuminta beserta kawan – kawannya mendirikan PERSAGI yang bertujuan untuk mengembangkan seni lukis di Indonesia dengan mencari dan menggali nilai – nilai asli yang mencerminkan kepribadian Indonesia yang sebenarnya, selain itu PERSAGI juga berupaya mengimbangi Lembaga Kesenian Asing Kunstring yang mampu menghimpun lukisan – lukisan bercorak modern.
Cita PERSAGI masih berlanjut pada masa pendudukan jepang dan masih melekat pada para pelukis. Para pelukis menyadari seni lukis berperan penting untuk kepentimgan revolusi. Selain PERSAGI , pada masa ini didirikan KEIMIN BUNKA SHIDOSO (Lembaga Kesenian Indonesia – Jepang) oleh Dai Nippon dan diawasi seniman Indonesia yang bertujuan untuk propaganda pembentukan kekaisaran Asia Timur Raya. Kemudian berdirilah PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) sebagai organisasi asli orang Indonesia yang didirikan tahun 1943 oleh Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH. Mansur yang bertujuan untuk memperhatikan dan memperkuat perkembangan seni dan budaya khususnya seni lukis yang dikelola S.Sudjodjono dan Afandi , selanjutnya bergabunglah beberapa pelukis dalam PUTERA seperti Hendra, Sudarso, dan sebagainya.
Setelah Indonesia merdeka , organisasi dibidang seni rupa (lukis) bermunculan diantaranya:
a) Diawali oleh SIM (Seniman Indonesia Muda) berdiri tahun 1946 yang dipimpin S.Sudjodjono, dengan anggotanya: Affandi, Sudarso, Gunawan, Abdus Salam, Tribus dll.
b) Karena selisih paham, Affandi dan Hendra keluar dari SIM dan mendirikan Perkumpulan Pelukis Rakyat tahun 1947. Affandi dan Hendra menjadi ketua dalam organisasi ini dengan anggota diantaranya Sasongko, Kusnadi, dll.
c) Selanjutnya tokoh SIM dan Pelukis Rakyat mendirikan Lembaga pendidikan Akademi Seni Rupa pada 1948. Lembaga ini memberikan kursus menggambar yaitu Prabangkara.
d) Selain itu juga berdiri Balai Perguruan Tinggi Guru Gambar tahun 1950 di Bandung yang dipelopori oleh Prof.Syafei Sumarja dibantu Muhtar Apin,Ahmad Sadali dan lain – lain.
e) Kemudian pada tahun 1959 Balai Perguruan Tinggi Guru Gambar berubah menjadi fakultas seni rupa di Institut Teknologi Bandung.

s.soedjojono

Lukisan Kawan-kawan Revolusi ,merupakan karya Sindudarsono Sudjojono pada tahun 1947.
Dengan media cat minyak di lukis atas kanvas dan memiliki ukuran 95×149 cm.
Lukisan ini dibuat ketika Bangsa Indonesia berusaha mempertahankan kemerdekaan. Saat itu S Sudjojono tetap berkarya dengan melukis kawan-kawan pejuang yang berusaha mempertahankan kemerdekaan bangsa. Lukisan Kawan-kawan Revolusi seakan bercerita bahwa pada masa itu seluruh pejuang saling bahu membahu mempertahankan kemerdekaan. Semangat dari para pejuang tercermin dalam lukisan ini.

editor : Bondan Arif Dhea Amelia Lidya Desiederya Ratna Putri Rizky Annisa Kelas XII IPA 5

BERBURU BANTENG PADA SENI RUPA INDONESIA MASA RINTISAN

Raden saleh adalah perintis seni modern. Ia di lahirkan oleh seorang ibu yang bernama raden mas adjeng zarip hoesen. Dia di lahirkan di dekat terbaya, umur 10 tahun dia dititipkan kepada pamannya yaitu bupati semarang
Kegemararannya menggambar nampak pada saat dia masih bersekolah. Keramahannya dalam bergaul membawa dia dapat mudah bergaul dengan orang belanda.
Prof. Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menilainya pantas mendapat ikatan dinas di departemennya.
Kebetulan pula di instansi itu ada pelukis keturunan Belgia, A.A.J Payen yang didatangkan dari Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Payen tertarik pada bakat Raden Saleh dan lantas berinisiatif memberikan bimbingan.
Raden saleh dibantu oleh payen untuk mendalami seni rupa barat dan belajar teknik pembuatannya. Misalnya menggunakan cat minyak. Dia diajak keliling oleh payen untuk melihat pemandangan yang bisa dilukisnya.
Payen terkesan dengan bakatnya dan mengusulkan untuk belajar ke belanda yang disetujui oleh Van Der Cappelen. Capellen membiayai raden saleh belajar ke belanda
Namun, keberangkatannya itu menyandang misi lain. Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis, selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa,Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu. Ini menunjukkan kecakapan lain Raden Saleh.
Raden saleh wafat pada tanggal 23 april 1880 di bogor. Dia tidak punya atau murid untuk meneruskan bakatnya. Namun hanya hasil karyanya yang tertinggal, contohnya Seorang tua dan Bola Dunia (1835), Berburu Banteng (1851), Bupati Majalengka (1852), Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857), Harimau Minum (1863) dan Perkelahian dengan Singa (1870).


Ini merupakan lukisan BERBURU Banteng. Itulah judul salah satu lukisan legendaris hasil karya Raden Saleh Syarif Bustaman (1807 – 1880), pelukis pribumi Indonesia yang disebut-sebut sebagai perintis aliran seni lukis modern (modern art) di tanah air
(EDITOR :FEBRIAN WN PUTRA K THORIQ M. ZIKRI A (XII IPS 3)