SEKILAS TENTANG SENIMAN MAZAB BANDUNG

Mochtar Apin


Senirupawan pada Mazhab Bandung ini, lahir di Bukit Tinggi, Padang Panjang, Sumatera Barat pada 23 Desember 1923 dan meninggal di Bandung, 1 Januari 1994. Senirupawan ini adalah seorang putera yang meraih gelar sarjana sastra di Universitas Indonesia di Jakarta. Bakatnya adalah membaca puisi serta menulis, sedangkan melukis menjadi hobinya saat ia masih sekolah (1939-1940). Lulus Seni Rupa ITB, Bandung (1951), Seni Rupa dan Kria, Amsterdam (1952), Ecole Nationale Superieure des Beaux Art, Paris (1957), dan Deutsche Akademie der Kunste, Berlin (Jerman) tahun 1958. Salah seorang pendiri organisasi budaya Gelanggang. Sejak tahun 1950 sampai akhir hayatnya, aktif mengikuti pameran bersama ataupun tunggal

MOCHTAR APIN
PETAK-PETAK BIDANG HIJAU DI ATAS UNGU
1975 ACRYLIC ON CANVAS 100X130 Cm

Gregorius Sidharta

Gregorius Sidharta Soegijo lahir di Yogyakarta, pada 30 November 1932 dan meninggal di Surakarta, Jawa Tengah, 4 Oktober 2006 pada umur 73 tahun. Beliau adalah seorang pematung terkenal Indonesia. Ia juga dianggap sebagai tokoh pembaruan seni patung Indonesia.
Sidharta dilahirkan sebagai anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Ia mulai belajar melukis di Sanggar Pelukis Rakyat, Yogyakarta, yang kemudian dilanjutkannya di Akademi Seni Rupa Indonesia juga di Yogyakarta. Sebelum beralih ke seni patung, ia sempat mempelajari dasar-dasar melukis dari tokoh-tokoh pelukis seperti Hendra Gunawan dan Trubus pada tahun 1950-an. Pada tahun 1953 ia dikirim belajar di Jan van Eyck Academie di Maastricht, Belanda selama tiga tahun oleh misi Gereja Katolik.
Gregorius Sidharta pernah mendapatkan berbagai penghargaan atas karya-karyanya, antara lain:
• Anugerah Seni dari Badan Musjawarah Kebudajaan Nasional (1952)
• Anugerah Seni DKI Jakarta tahun (1982)
• Penghargaan Patung Terbaik dari Dewan Kesenian Jakarta (1986)
• Penghargaan ASEAN ke-2 untuk Kebudayaan, Komunikasi dan Karya Sastra (1990)
• Penghargaan Rencana Monumen Proklamator di Jakarta

G. SIDHARTA
TANGISAN DEWI BETARI
THE WEEPING GODDES
1978

SUNARYO

Bisa dibilang seniman kelahiran Banyumas (Jawa Tengah), 15 Mei 1943 ini merupakan salah satu legenda Indonesia. Lebih dari itu, alumnus Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) ini termasuk seniman grafis yang telah diakui secara internasional. Pengakuan itu dibuktikan dengan diraihnya pulhan penghargaan seni, termasuk yang berkelas internasional.
Tahun 1978 ia memenangkan hadiah ke-2 Graphic Competition yang diadakan UNESCO di Paris. Sebelas tahun kemudian, 5 karya grafisnya dimuat dalam buku Contemporary Prints of The World. Dalam buku itu, nama Sunaryo disejajarkan dengan seniman-seniman besar grafis kelas dunia seperti Joan Miro, Paul Klee, dan George Braque. Iapun telah memenangkan sedikitnya 5 kali penghargaan dari The Philip Morris Award sejak tahun 1994.
Tidak hanya berkarya di bidang grafis, Sunaryopun menjelajahi seni patung, lukis, keramik, tekstil, hingga instalasi. Kini, penggemar gudeg ini sibuk mengembangkan Selasar Sunaryo Art Space yang didirikannya di Desa Mekarwangi, Bandung Utara. Tak hanya tempatnya berkarya, Sunaryo melengkapi Selasar ini dengan studio dan tempat tinggal bagi para seniman dari dalam maupun luar negeri. Di sini, para senimanpun bisa berkumpul dan berdiskusi. Ia juga memiliki Selasar lain di kawasan Bukit Pakar Timur, tak jauh dari tempat tinggalnya.
Sebagai pribadi, Sunaryo Sutono, demikian nama lengkapnya, dikenal rendah hati sehingga disukai kalangan seniman maupun industri. Meski demikian, ia dikenal sebagai seniman yang keukeuh mempertahankan idealisme. Dari pernikahannya dengan Heti Komalasari, Sunaryo dikaruniai 3 putra-putri: Hardianto, Arin Dwihartanto, dan Harmita.

PATUNG GALAU RESTLEES
SUNARYO
FIBERGLASS, BESI, KAIN HITAM
135,1x142x65 cm.

Diambil dari berbagai sumber oleh : DICHA INDRIASTHI, DIYAH PUTRI C. FINA FRANSISKA, FATTRIA MADILLA M.T. XII IPA 3