relif6

Seni Rupa Purba dan Seni Rupa Klasik Nusantara

SENI RUPA PURBA
Gong ini dibuat sekitar 600 tahun sebelum masehi atau sebelumnya, sampai abad ketiga Masehi.
Gong ini merupakan gong perunggu buatan kebudayaan Dong Son, yang terdapat di delta Sungai Merah, Vietnam Utara. Gong Nekara dibawa dari Indo China oleh Sawerigading dan ada satu lagi di China. Gong ini dianggap sebagai suami dan yang ada di China dianggap sebagai isteri.
Gong Nekara memiliki luas lingkaran sebesar 396 cm persegi, luas lingkaran pinggang 340 cm persegi, dan tinggi 95 cm persegi. Keunikan yang dimiliki gong ini adalah adanya gambar bermotif flora dan fauna terdiri dari gajah 16 ekor, burung 54 ekor, pohon sirih 11 buah dan ikan 18 ekor. Sementara dipermukaan gong bagian atas terdapat 4 ekor arca berbentuk kodok dengan panjang 20 cm dan di samping terdapat 4 daun telinga yang berfungsi sebagian pegangan. Pada bidang pukul terdapat hiasan geometris, demikian pula pada bagian tengah gong terdapat garis pola bintang berbentuk 16. Nekara secara vertikal terdiri atas susunan kaki berbentuk bundar seperti silinder, badan dan bahu berbentuk cembung.

KARYA SENI RUPA KLASIK (Nusantara)
Kumpulan karya dan konsep seni rupa yang muncul sejak dimulainya abad ke-empat masehi dan berlangsung di Nusantara.
Tujuan dibuatnya Seni Rupa Klasik Nusantara adalah Sebagai media untuk berbagai kegiatan sakral yang suci pada zaman Hindhu-Budha di Indonesia atau kegiatan lain yang berhubungan dengan agama.
Kebanyakan hasil karya dari seni rupa klasik jaman dahulu berupa candi, pura,patung, hiasan dan pakaian adat.
Candi Prambanan termasuk dalam salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO dan merupakan Candi Hindu terbesar di Indonesia, bahkan terbesar di Asia Tenggara. Candi ini terletak di Jl. Solo Km 16, Desa Prambanan, Propinsi Yogyakarta, Indonesia.

Candi Prambanan di bangun sekitar tahun 850 Masehi pada abad ke-9 oleh Dinasti Sanjaya, pada masa masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Candi ini di bangun sebagai tandingan untuk Dinasti Syailendra yang membangun Candi Borobudur dan Candi Sewu di daerah tersebut. Para sejarawan menyatakan bahwa pembangunan Prambanan mungkin dimaksudkan untuk menandai kembalinya Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu setelah hampir satu abad jatuh di bawah dominasi Dinasti Syailendra yang beragama Buddha di Jawa Tengah, sedangkan nama Prambanan berasal dari nama desa dimana candi itu berdiri.
Candi Prambanan memiliki 3 candi utama yang terletak di halaman utama, yaitu Candi Wisnu (pemelihara), Brahma (pencipta), dan Siwa (penghancur). Ketiga candi tersebut merupakan lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu dengan posisi candi menghadap ke arah timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat dan di dedikasikan sebagai kendaraan (wahana) untuk masing-masing dewa. Banteng Nandi untuk Siwa, Angsa suci Hamsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.
Arsitektur Candi Prambanan mengikuti arsitektur Hindu berdasarkan tradisi Vastu Shastra. Desain candi memasukkan mandala dalam pengaturan candi dan juga menara khas candi Hindu yang menjulang tinggi. Candi Prambanan awalnya bernama Shivagrha dan didedikasikan untuk dewa Siwa. Candi Prambanan ini dirancang untuk meniru Meru, gunung suci tempat tinggal para dewa Hindu, dan rumah Siwa. Seluruh kompleks Candi merupakan model alam semesta menurut kosmologi Hindu dan lapisan-lapisan Loka.

EDITOR : Isabella Ratna M.D KLAS X-I