MASA INDONESIA JELITA (Indie Mooi) 1878

Hallo temen-temen semua…..selamat datang di seni rupa indonesia periode INDONESIA JELITA! Yups ini merupakan salah satu pekembangan periode seni rupa yang bakal kami bahas kali ini.
Ini dia….” MASA INDONESIA JELITA “adalah salah satu periode seni rupa yang berkembang di Indonesia setelah masa perintisan. Masa INDONESIA JELITA ini muncul pada tahun 1800an sampai 1900an di indonesia.
Pada masa INDONESIA JELITA ini pelukis-pelukis lebih menonjolkan pada keindahan alam yang ada di Indonesia. Mungkin itulah sebabnya kenapa periode ini disebut juga sebagai periode HINDIA MOLEK.Konsep ini sangat berbeda dengan konsep-konsep pada periode-periode sebelumnya yang tidak begitu mempertimbangkan objek alam secara utuh dalam lukisannya.
Pada periode ini juga ditandai dengan datangnya seniman-seniman luar negeri yang sangat antusias melukis pemandangan di Indonesia.
Inilah beberapa Tokoh seniman dari masa Indie Mooi :Abdullah Soro Subroto(1878-1941), Mas Pirngadi (1875 – 1936), Wakidi,Sanento Yuliman, Henk Ngantung, Lee Man Fong, Ruddolf Bonnet, Walter Spies, Romuldo Locatelli, Lee Mayer,W G Hofker.
“Iyakan banyak seniman luarnya!!.Itu hanya sebagian kecil temen-temen. Masih banyak lagi tokoh-tokoh dan karya lukisan yang terkenal.”
Setelah kita sedikit mengulas tentang masa periodenya, selanjutnya kita ulas sedikit tentang salah satu karya pada periode INDIE MOoI ini. Salah satuya yaitu lukisan karya Wakidi.
Yups that is Mountain Landscape. Ini dia gambarnya !!!!

Judul :Mountain Landscape,
karya :Wakidi,
media : Cat minyak diatas kanvas,
ukuran :139.5 x 197 cm
Yups guys….sekarang kami akan membahas lukisan “ Mountain Landscape “ karya Wakidi ini. Di dalam lukisan ini kita bisa menemukan keindahan alam sebagai objeknya. Lukisan inipun hanya menyenangkan secara visual dan tidak ada kreativitas-kreativitas baru untuk menonjolkan makna dari lukisan ini. Jadi, ini merupakan lukisan yang turistik yaitu lukisan yang langsung menggambar pemandangan alam secara natural serta mempertimbangkan perspektifnya(ruang). Lukisan Wakidi juga menggunakan cat minyak agar karya lukisannya berwarna mencolok tapi naturtal. Lukisan itupun dilukis secara natural tanpa adanya penembahan atau pengurangan unsur-unsur tertentu supaya menonjolkan makna naturalnya. O ya pada periode ini dalam kemahiran teknik melukisnya tidak di dibarengi dengan penonjolan nilai spiritual. So, hanya seperti ini lukisannya.
Tapi dalam lukisan ini kita benar-benar dibawa pada keindahan alam yang disuguhkan Indonesia. Sangat elok dan mengagumkan (menurut kami..).Lukisanya begitu alami dan natural (alami..natural..apa bedanya???).
Ini juga sebagai imbas dari penjajahan di masa Belanda sehingga pelukis hanya menggambar mengenai keindahan-keindahan alam yang ada di zaman belanda. Selain itu, para pemesan lukisan hanya menginginkan karya mengenai keindahan penampakan di Indoneisa. Sehingga ini melatarbelakangi lukisan pada zaman Indonesia Jelita yang lebih dominan mengenai penggambaran keindahan alam di Indonesia. Dan sangat jarang terlihat adanya lukisan dengan bertemakan mengenai tindak anti penjajahan pada zaman Indonesia Jelita atau mungkin pemerintah Belanda mengekang para pelukis dan hanya diperbolehkan untuk menggambar gambar-gambar yang tidak memiliki nilai simbolik. Maka dari itu lukisan ini tidak mencerminkan jiwa merdeka.
“Sekian dulu ya temen-temen pembahasan kami tentang masa INDONESIA JELITA. Semoga tulisan kami ini bermanfaat buat kalian semua. Kami juga mengharapkan banyak usulan-usulan atau saran yang membangun. Jika ada kesalahan dalam penulisannya mohon maaf….”
Bye….!!!

Penulis : Ira Puspitasari, Linda Candra, Pramesthi Sukma, Resti

About these ads

13 comments on “MASA INDONESIA JELITA (Indie Mooi) 1878

    • trims ya atas pertanyaanya.
      Teknik yang diaplikasikan ialah teknik lipasto, glazing, cat tepat atau hardedge, titik scumbling atau teknik melembut.

      teknik pewarnaan Cat minyak telah diperoleh dalam bentuk tiup. Bahantara untuk menggunakan cat minyak ialah turpetine. Bahan pengilat yang boleh digunakan ialah minyak linsid, minyak poppy atau minyak kacang. Berus yang digunakan adalah jenis lembut dan keras, pisau palet, kekuda, kanvas, papan, kayu playwood dan kadbod.

      linda chandra XII IPA 1/22

      Suka

    • tidak banyak literatur tentang lukisan wakidi. karya Mountain Lanscape tersebut diperkirakan dibuat tahun 1920 an atau setelahnya. yang dapat kami temukan hanya Wakidi melakukan pameran lukisan pertama kali tahun 1920 dan beliau meninggal tahun 1979.

      Suka

  1. Maaf, saya tadi tertarik baca artikel ini, isinya menrik… tapi saya mau tanya, seingat saya nama Sanento Yuliman lebih dikenal sebagai ‘kritikus seni’ dan dia lahir tahun 1941…. begitu bukan ya…? -trima kasih tanggapannya-

    Suka

    • betul sekali, beliau pada awalnya merupakan seorang pelukis yang aktif juga menulis esai, sastra, dan puisi, serta beraktifitas di dunia teater. Pernah menjadi redaktur di majalah Horison, Setelah itu, beliau memfokuskan sebagai kritikus seni rupa.

      Suka

      • Ya, trima kasih infonya itu, saya juga sudah sering baca…. tapi yang saya mau tanya lebih rinci… apakah Sanento pernah melukis lukisan mooi indie….? kenapa di artikel di atas, dia dimasukkan sebagai seniman-seniman mooi indie…? -terima kasih banyak-

        Suka

  2. Sanento Yuliman bukan merupakan pelukis Indonesia Jelita, sehingga tidak pernah melukis lukisan Mooi Indie, dimasukkannya beliau sbg seniman Mooi Indie adalah kesalahan persepsi kami dan siswa kami dalam memahami “Tulisan” Sanento Yuliman yang kami baca, mengenai pembahasan mooi Indie. yang kurang lebih seperti ini :

    “pada awal abad dua puluh terbentuklah konsumen lukisan pemandangan alam di Indonesia, yaitu saudagar, pengusaha, pegawai Belanda dan para wisatawan…semua menginginkan kenang-kenangan alam Indonesia…karena kebanyakan pelukis pada masa itu memang senang melukis pemandangan alam. Kesenangan itu…beserta hasil penjualan…bagi pelukis merupakan imbalan yang cukup…Pelukis Abdullah Suryosubroto, Pringadi dan Wakidi meluangkan banyak waktu…pergi ke tempat sepi di lereng gunung Tangkuban Parahu, kaki Merapi, pantai Pelabuhan Ratu dan di Ngarai Sianok merenungi pemandangan alam dan dengan tekun melukisnya (Sanento Yuliman, 2001:80).”

    Jika kami lebih teliti, sampai berakhirnya periode Hindia Molek pun Sanento Yuliman belum lahir, terima kasih atas perhatiannya, dan akan menjadikan koreksi bagi kami untuk belajar seni rupa lebih teliti lagi.

    Suka

    • Dirangkum dari berbagai sumber. Karena tulisan ini merupakan hasil diskusi kelompok pada pembelajaran seni budaya di sekolah kami. Ada beberapa dari artikel kami yang menyertakan sumber ada yang tidak. Itu semata mata kekurangan dari kami.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s